Teropongdaily, Medan-Banjir yang kembali merendam berbagai wilayah di Sumatra menunjukkan bahwa bencana ekologis di pulau ini bukan lagi peristiwa musiman, melainkan sinyal keras bahwa daya dukung lingkungan telah melewati batasnya. Kerusakan hutan di hulu dan hilir membuat banjir menjadi ancaman yang semakin besar dan sering.
Data pantauan kementrian kehutanan menunjukkan bahwa Sejak 2001 hingga 2024, Sumatra telah kehilangan sekitar 4,4 juta hektare hutan. Di Sumatra Utara, tutupan hutan hanya tersisa sekitar 29 persen wilayah. sementara di Aceh, kehilangan lebih dari 700.000 hektare dalam tiga dekade terakhir. Kemudian, Sumatra Barat pun mengalami degradasi signifikan, dengan total kehilangan lebih dari 740.000 hektare dalam dua dekade.
Hilangnya tutupan hutan memperbesar sedimentasi sungai, mengubah aliran air, dan menurunkan kemampuan tanah menyerap hujan. Ketika kawasan hulu terdegradasi, air mengalir tanpa kendali ke hilir, merusak rumah, infrastruktur, dan aktivitas ekonomi warga.
Meski demikian, Narasi pembangunan ekonomi sering dijadikan pembenaran ekspansi lahan dan industri ekstraktif. Padahal, kerugian akibat banjir selalu jauh lebih besar daripada manfaat ekonomi jangka pendek dari pembukaan lahan.
Kondisi ini di perburuk oleh Minimnya pengawasan terhadap aktivitas perusakan lingkungan memperparah keadaan. Banyak wilayah yang kini rutin terdampak banjir adalah daerah dengan tingkat deforestasi tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Di sisi lain, isu lingkungan kerap terpinggirkan oleh dinamika politik dan isu nasional lainnya. Padahal, dampaknya jauh lebih langsung dirasakan masyarakat mulai dari kehilangan tempat tinggal hingga ancaman keselamatan jiwa.
Situasi ini seharusnya mendorong evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola lingkungan. Penanganan banjir tidak boleh lagi hanya bersifat reaktif. Pemulihan kawasan hutan, penataan ulang Daerah Aliran Sungai, serta penegakan hukum terhadap perambahan lahan harus menjadi prioritas kebijakan.
Banjir di Sumatra adalah peringatan keras. Kita dihadapkan pada pilihan moral, terus membiarkan alam menagih kesalahan kita dengan bencana yang semakin mahal? atau mengambil langkah korektif sebelum kerusakan menjadi tak terbendung? Jawabannya akan menentukan apakah Sumatra akan tetap menjadi tanah yang layak huni, atau berubah menjadi kawasan rawan bencana yang ditakuti warganya sendiri.
Tr: Halimah Tunsya’ Diah
Sumber Foto: Kompas.com






















