Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) semester VI, Nazwa Aulia Putri, yang cukup sering nongkrong di kafe menilai ramainya kafe dan mal belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat di tengah pelemahan rupiah.
Ia mengaku kondisi ekonomi saat ini cukup berpengaruh terhadap pola pengeluaran dan kebiasaan nongkrongnya sebagai mahasiswa.
“Iya, cukup berpengaruh. Sekarang jadi lebih selektif buat ngeluarin uang, terutama buat nongkrong. Kalau dulu mungkin bisa sering ke kafe, sekarang lebih sering cari tempat yang lebih murah atau nongkrong di rumah teman,” ujarnya, Sabtu (06/06/2026).
Menurutnya, sebagian masyarakat memang masih mengutamakan hiburan dan gaya hidup meskipun kondisi ekonomi sedang sulit. Namun, tidak semua orang memiliki pola konsumsi yang sama.
“Menurut aku, sebagian masyarakat memang masih mengutamakan hiburan dan gaya hidup karena itu dianggap sebagai bentuk self-reward atau pelepas stres. Apalagi sekarang pengaruh media sosial cukup besar, jadi banyak orang merasa perlu mengikuti tren. Tapi di sisi lain, ada juga yang mulai lebih sadar buat mengatur keuangan dan memprioritaskan kebutuhan pokok,” ungkapnya.
Ia mengaku mengikuti perkembangan pelemahan rupiah yang belakangan sempat menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS. Ia menilai kondisi tersebut dapat berdampak pada kenaikan biaya hidup masyarakat.
“Iya, saya cukup mengikuti beritanya. Menurut saya, pelemahan rupiah bisa berdampak ke banyak hal, terutama kenaikan harga barang impor dan biaya hidup yang makin mahal. Sebagai mahasiswa, mungkin dampaknya nggak langsung terasa setiap hari, tapi dalam jangka panjang bisa memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan,” tuturnya.
Ia berpandangan bahwa ramainya kafe dan mal belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi seluruh lapisan masyarakat karena yang terlihat bisa saja hanya kelompok tertentu yang masih memiliki daya beli tinggi.
“Menurut saya, nggak bisa dijadikan indikator utama. Memang kafe dan mal yang ramai menunjukkan masih ada aktivitas konsumsi, tapi itu belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi semua masyarakat. Bisa saja yang terlihat hanya kelompok tertentu yang masih punya daya beli tinggi, sementara banyak masyarakat lain yang sedang berhemat,” katanya.
Tr: Ilham




















