Teropongdaily, Medan-Menjadi mahasiswa sering kali digambarkan sebagai fase kehidupan yang penuh warna dan kebebasan. Namun, di balik hiruk-pikuk ruang kuliah dan gemerlap media sosial, tersembunyi beban yang tak kasatmata. Tekanan akademik yang menyesakkan, tuntutan sosial yang terus menghantui, serta berbagai masalah pribadi yang menumpuk membuat kesehatan mental mahasiswa semakin rentan. Ironisnya, di tengah riuhnya kehidupan kampus, aspek ini justru sering terabaikan.
Bayangkan saja, tugas kuliah yang menumpuk tanpa henti, ujian yang menguras tenaga dan pikiran, serta persaingan ketat yang memicu kecemasan dan perasaan tidak percaya diri. Di sisi lain, tekanan untuk selalu terlihat sempurna di media sosial semakin menekan mahasiswa, membuat mereka terus membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih sukses dan bahagia. Ditambah dengan tekanan pergaulan, masalah finansial, serta ketidakpastian masa depan, semua itu menjadi beban berat yang tidak selalu terlihat dari luar. Sayangnya, stigma negatif terhadap kesehatan mental masih membuat banyak mahasiswa enggan mencari bantuan. Mereka takut dicap lemah dan akhirnya memilih memendam semuanya sendiri—merasa sendirian dan terisolasi dalam perjuangan melawan beban yang tak terlihat.
Padahal, kesehatan mental yang terabaikan bisa berdampak buruk pada berbagai aspek kehidupan. Prestasi akademik bisa menurun akibat sulit berkonsentrasi, stres berkepanjangan dapat memicu gangguan kesehatan fisik seperti sakit kepala dan gangguan pencernaan, dan yang lebih parah, mahasiswa berisiko mengalami gangguan kecemasan serta depresi. Stres kronis juga bisa mengganggu fungsi kognitif, seperti memori dan daya pikir, serta berkontribusi pada munculnya gangguan mental yang lebih serius.
Menurut penelitian Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), sekitar 6,1% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan depresi, dan 6,8% mengalami gangguan kecemasan. Sementara itu, data dari American Psychological Association menunjukkan bahwa kasus depresi pada mahasiswa meningkat sebanyak 10% dalam sepuluh tahun terakhir. Angka ini bukan sekadar statistik ini adalah tanda bahwa kesehatan mental mahasiswa berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengubah paradigma ini. Kesehatan mental harus menjadi prioritas bagi mahasiswa. Kampus harus lebih aktif dalam mengedukasi mahasiswa mengenai pentingnya kesehatan mental, tanda-tanda gangguan psikologis, serta bagaimana cara mencari bantuan. Layanan konseling yang mudah diakses dan lingkungan yang mendukung tanpa stigma harus menjadi bagian dari sistem pendidikan tinggi.
Dosen dan staf kampus juga perlu mendapatkan pelatihan agar mampu mengenali dan membantu mahasiswa yang mengalami tekanan psikologis. Selain itu, menciptakan komunitas yang saling mendukung, di mana mahasiswa dapat berbagi pengalaman dan menguatkan satu sama lain, akan sangat membantu mengurangi perasaan terisolasi.
Di sisi lain, mahasiswa juga harus mulai menerapkan kebiasaan yang mendukung kesehatan mental mereka. Gaya hidup sehat, seperti menjaga pola makan seimbang, berolahraga teratur, dan tidur yang cukup, berperan besar dalam menjaga keseimbangan mental. Teknik manajemen stres seperti meditasi, yoga, atau sekadar meluangkan waktu untuk diri sendiri juga bisa menjadi cara efektif untuk mengatasi tekanan.
Yang paling penting, jangan pernah ragu untuk mencari bantuan profesional jika beban terasa terlalu berat. Pergi ke psikolog atau psikiater bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah bijak untuk menjaga kesehatan diri.
Mahasiswa, jangan biarkan beban pikiran menghancurkanmu sendirian. Kesehatan mental adalah hak, bukan aib. Mari bersama-sama menciptakan lingkungan kampus yang lebih peduli dan suportif, agar setiap mahasiswa bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal.
Tr: Nabila Sinaga






















