Teropongdaily, Medan-Pertemanan adalah salah satu anugerah berharga dalam hidup. Namun, di zaman modern ini banyak orang merasa kesulitan mempertahankan pertemanan dalam jangka panjang. Padahal, teknologi telah membuat kita lebih mudah terhubung dengan siapa saja. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa justru pertemanan awet semakin langka?
Salah satu penyebabnya adalah gaya hidup yang serba cepat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, rata-rata pekerja muda di Indonesia menghabiskan lebih dari 40 jam per minggu untuk bekerja. Kesibukan tersebut membuat waktu untuk berkumpul atau sekadar menjaga komunikasi dengan teman menjadi terbatas.
Akhirnya, pertemanan sering terlupakan karena prioritas pekerjaan dan tanggung jawab pribadi. Dalam situasi seperti ini, hubungan yang dulunya erat perlahan memudar, tergeser oleh tuntutan hidup yang semakin kompleks.
Selain itu, media sosial turut memengaruhi kualitas pertemanan. Survei We Are Social 2024 menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan 3 jam 6 menit per hari di media sosial. Meskipun terlihat “terhubung”, hubungan ini sebenarnya rentan. Komunikasi lebih banyak berupa like, komentar singkat, atau sekadar menonton story. Akibatnya, pertemanan cenderung kehilangan kedekatan emosional karena minim interaksi yang mendalam.
Perubahan lingkungan hidup juga menjadi faktor lain. Setelah lulus sekolah atau kuliah, banyak orang berpindah kota, bahkan negara, untuk mengejar karier. Data Kementerian Perhubungan 2024 mencatat lebih dari 30% lulusan perguruan tinggi harus merantau ke kota besar untuk bekerja.
Kondisi ini membuat intensitas bertemu dengan teman lama semakin berkurang, sehingga kedekatan perlahan memudar. Terlebih dengan hadirnya kenalan baru di lingkungan yang berbeda, pertemanan lama kerap merenggang seiring waktu.
Namun, bukan berarti pertemanan awet mustahil. Menjaga komunikasi secara konsisten, meski hanya lewat pesan singkat atau video call, tetap bisa memperkuat ikatan yang ada. Justru di tengah kesibukan dan keterasingan sosial, pertemanan tulus menjadi harta yang paling berharga.
Pada akhirnya, pertemanan awet memang semakin langka di era modern, tetapi tetap mungkin jika dijaga. Dengan saling menghargai keterbatasan masing-masing, hubungan pertemanan dapat bertahan lama dan menjadi sumber kekuatan dalam menjalani hidup.
Tr: Nashwa Sabillah






















