• Latest
  • Trending
  • All
  • Kabar Kampus
  • Feature
  • Opini
  • Sosok
Mengenal Ratu Safiatuddin, Pemimpin Perempuan Pertama Di Aceh

Mengenal Ratu Safiatuddin, Pemimpin Perempuan Pertama Di Aceh

31 December 2021
Yudisium FIKTI UMSU Luluskan Mahasiswa Internasional Pertama

Yudisium FIKTI UMSU Luluskan Mahasiswa Internasional Pertama

19 June 2026
FKIP UMSU Ajak Lulusan Terus Belajar dan Jaga Nama Baik Almamater

FKIP UMSU Ajak Lulusan Terus Belajar dan Jaga Nama Baik Almamater

19 June 2026
FKIP UMSU Kukuhkan 292 Lulusan Baru pada Yudisium Periode I Tahun 2026

FKIP UMSU Kukuhkan 292 Lulusan Baru pada Yudisium Periode I Tahun 2026

19 June 2026
Keluarga Nelayan Sampaikan Tuntutan Keadilan di Tengah Aksi Unjuk Rasa

Keluarga Nelayan Sampaikan Tuntutan Keadilan di Tengah Aksi Unjuk Rasa

19 June 2026
UMSU Bersama HMI, PMII, dan Sejumlah Kampus Gelar Aksi di DPRD Sumut

UMSU Bersama HMI, PMII, dan Sejumlah Kampus Gelar Aksi di DPRD Sumut

19 June 2026
FISIP UMSU Kukuhkan 299 Lulusan Baru pada Yudisium Periode I 2026

FISIP UMSU Kukuhkan 299 Lulusan Baru pada Yudisium Periode I 2026

18 June 2026

18 June 2026
Mahasiswa Unimed Sampaikan 10 Tuntutan ke DPRD Sumut

Mahasiswa Unimed Sampaikan 10 Tuntutan ke DPRD Sumut

18 June 2026
Belajar dari Pengusaha Kopi Gayo, MBS UMSU Dorong Mahasiswa Jadi Pencipta Lapangan Kerja

Belajar dari Pengusaha Kopi Gayo, MBS UMSU Dorong Mahasiswa Jadi Pencipta Lapangan Kerja

18 June 2026
Mahasiswa MBS UMSU Soroti Pentingnya Pembelajaran Bisnis dari Praktisi

Mahasiswa MBS UMSU Soroti Pentingnya Pembelajaran Bisnis dari Praktisi

18 June 2026
Perwakilan Peserta Yudisium FEB UMSU Angkat Pengalaman Mahasiswa Thailand dan Nilai Toleransi

Perwakilan Peserta Yudisium FEB UMSU Angkat Pengalaman Mahasiswa Thailand dan Nilai Toleransi

17 June 2026
Dekan Fakultas Pertanian Dorong Alumni Jadi Agen Perubahan Berkelanjutan

Dekan Fakultas Pertanian Dorong Alumni Jadi Agen Perubahan Berkelanjutan

17 June 2026
  • Tentang
  • Advertisement
  • Contact
Saturday, 20 June 2026
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
BERLANGGANAN
UKM-LPM Teropong UMSU
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
No Result
View All Result
UKM-LPM Teropong UMSU
No Result
View All Result
Home Artikel

Mengenal Ratu Safiatuddin, Pemimpin Perempuan Pertama Di Aceh

by REDAKSI TEROPONG
31 December 2021
in Artikel
Reading Time: 3 mins read
0
Mengenal Ratu Safiatuddin, Pemimpin Perempuan Pertama Di Aceh
0
SHARES
180
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Teropongonline, Medan-Safiatuddin merupakan pemimpin perempuan pertama di Aceh, menurut sejarahwan Sher Banu A Latief Khan dalam tesisnya untuk London University “The Sultanahs of Aceh (2009)” Safiatuddin punya beban warisan kejayaan yang tergolong berat. Ayahnya, Iskandar Muda, adalah satu sultan paling berjaya dalam sejarah kesultanan. Ia ternama dengan ekspedisi-ekspedisi militer yang berhasil meluaskan rentangan wilayah kerajaan Aceh dari pesisir Minangkabau hingga semenanjung Malaysia. Sepanjang masa kepemimpinan Iskandar Muda dari 1607 hingga 1936, Kesultanan Aceh mengalami kejayaan yang belum pernah mereka capai sebelumnya.

Selain itu, Kawasan Selat Malaka Tengah tak jenak kala Safiatuddin naik singgasana. Perusahaan-perusahaan kolonialis dari Belanda dan Inggris sedang gencar-gencarnya merebutkan jalur dagang di Selat Malaka. Berbagai blokade jalur dagang dan pelabuhan dilakukan dan darah-darah ditumpahkan.

RelatedPosts

The Economist Soroti Indonesia di Era Prabowo, Pemerintah Dinilai Hadapi ‘Jalur Berisiko’

Nobar “Pesta Babi” Tuai Kontroversi, Ruang Diskusi Kampus Kembali Dipertanyakan

Benarkah Hantavirus Bisa Menjadi Pandemi Berikutnya

Berbeda dengan ayahnya, Safiatuddin tak sedemikian memiliki keahlian di bidang kemiliteran dan tak gemar berperang. Namun, ia mengkompensasi hal itu dengan diplomasi yang cermat. Membangun aliansi dan mencari dukungan untuk menghalau ancaman-ancaman terhadap kerajaan. Surat-surat Safiatuddin untuk berbagai pihak banyak yang masih bertahan hingga saat ini dan menggambarkan kelihaiannya berdiplomasi.

Negara-negara Eropa seperti Portugis, Inggris, Spanyol, dan Belanda, dan Turki Utsmani, seluruhnya memiliki catatan tentang Safiatuddin menyusul kebiasaannya bersurat tersebut. Kecakapannya berdiplomasi berhasil mencegah Aceh dirongrong kekuatan-kekuatan kolonialis selama 34 tahun masa pemerintahannya.

“Seperti yang dikata orang, ingatlah dua hal dalam hidup, yakni Tuhanmu dan kematian. Lupakan dua hal dalam hidup, yakni kebaikan yang telah engkau lakukan dan keburukan yang dilakukan orang-orang terhadapmu, agar kesadaranmu tetap jernih dan tenang,” tulisnya dalam surat kepada Gubernur Jenderal Batavia Joan Maetsuyker pada 1659 untuk menawarkan perdamaian dengan pihak Belanda.

Kendati dalam sejumlah kesempatan, Ratu Safiattudin juga tak ragu menggunakan jalan perang guna menegaskan kedaulatan wilayahnya. Dua peristiwa yang menggambarkan hal itu adalah saat Sultanah memerangi VOC di Perak dan pantai barat Sumatra karena menganggap VOC telah melanggar kedaulatan Aceh.

Safiatuddin juga dikenal karena mendorong kemajuan lewat budaya dan ilmu pengetahuan. Ia tercatat memajukan Jami’ Baiturrahman di Banda Aceh. Demikian juga dayah-dayah (pesantren-pesantren) di seluruh daerah wilayah kekuasaan Aceh. Di bantu Ar-Raniry dan Abdurrauf Singkil sebagai mufti kerajaan, Safiatuddin tercatat sebagai pemimpin yang adil dan cerdas.

Safiatuddin juga disebut tak sedemikian represif terhadap para penentangnya. Tiar menuliskan, para ulama yang sempat menolak kepemimpinannya, yang jumlahnya sekira 300 orang, dibiarkan pindah dari Banda Aceh untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Di antaranya, Syekh Abdul Wahhab diizinkan hijrah ke Tiro dan mendirikan dayah di sana. Dayah Syekh Abdul Wahhab ini berkembang sangat pesat menjadi salah satu dayah terbesar di Aceh.

Safiatuddin tidak mengganggu perkembangan dayah ini walaupun pendirinya berseberangan dengannya. Pada masa kepemimpinan Safiatuddin, para ulama juga didorong menelurkan karya-karya yang masih dijadikan rujukan hingga kini. Syekh Ar-Raniry, misalnya, menulis kitab Hidayatul-Iman bi Fadhlil-Manan dalam bahasa Melayu sesuai permintaan Safiatuddin.

Abdurrauf Singkil juga diminta menulis kitab yang kemudian diberi judul Mir’atut-Thullab fi tashili Ma’rifatil-Ahkam serta sembilan kitab lainnya. Sementara Syekh Daud Ar-Rumy menulis Risalah Masailal Muhtadin li Ikhwanil Mubtadi atas permintaan Sultanah. Kitab-kitab itu kemudian dianjurkan agar dibaca masyarakat umum karena isinya diperuntukkan bagi kalangan awam.

Sultanah juga melanjutkan kebijakan pendahulunya membuka lembaga-lembaga pendidikan bagi perempuan. Tiar Anwar Bachtiar menuliskan bahwa kebijakan itu berimplikasi pada pembukaan kesempatan bagi kaum perempuan untuk turut ikut ambil bagian dalam berbagai bidang pekerjaan yang memungkinkan mereka melakukannya.
Sedangkan Latief Khan mencatat bahwa pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin, Balai Majelis Mahkamah Rakyat akhirnya tak melulu diisi kaum lelaki. Puluhan perempuan juga masuk dalam lembaga setingkat perlemen tersebut.

Terlepas dari statusnya sebagai perempuan yang dibatasi dari memimpin ritual-ritual keagamaan, Safiatuddin tak melakukan pemisahan antara politik dan agama. Ia kerap merujuk dirinya sebagai penegak hukum-hukum Allah.

Tr : Maghfirani

Previous Post

Daerah Yang Telah Mengeluarkan Larangan Adanya Perayaan Tahun Baru

Next Post

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Merayakan Tahu Baru

Related Posts

The Economist Soroti Indonesia di Era Prabowo, Pemerintah Dinilai Hadapi ‘Jalur Berisiko’

The Economist Soroti Indonesia di Era Prabowo, Pemerintah Dinilai Hadapi ‘Jalur Berisiko’

by REDAKSI TEROPONG
26 May 2026
0

Media internasional asal Inggris, The Economist, menyoroti arah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui artikel berjudul “Indonesia is on a risky...

Nobar “Pesta Babi” Tuai Kontroversi, Ruang Diskusi Kampus Kembali Dipertanyakan

Nobar “Pesta Babi” Tuai Kontroversi, Ruang Diskusi Kampus Kembali Dipertanyakan

by REDAKSI TEROPONG
17 May 2026
0

  Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita tengah menjadi perhatian publik setelah sejumlah agenda nonton bareng (nobar) dan...

Benarkah Hantavirus Bisa Menjadi Pandemi Berikutnya

Benarkah Hantavirus Bisa Menjadi Pandemi Berikutnya

by REDAKSI TEROPONG
17 May 2026
0

Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul berbagai laporan mengenai kasus infeksi yang menyebabkan gangguan pernapasan serius. Kemunculan virus ini...

Kemendikti Wacanakan Penutupan Prodi Tak Relevan, Tuai Pro dan Kontra

Kemendikti Wacanakan Penutupan Prodi Tak Relevan, Tuai Pro dan Kontra

by REDAKSI TEROPONG
28 April 2026
0

Rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk menutup program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri...

Catherine the Great dan Ambisi Air Hangat Rusia

Catherine the Great dan Ambisi Air Hangat Rusia

by REDAKSI TEROPONG
7 April 2026
0

Konflik Rusia di kawasan Laut Hitam dan Ukraina kerap dianggap sebagai persoalan politik masa kini. Padahal, akar persoalan ini sudah...

Serangan Iran di Timur Tengah Buka Risiko Perang Dunia ke 3

Serangan Iran di Timur Tengah Buka Risiko Perang Dunia ke 3

by REDAKSI TEROPONG
3 March 2026
0

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia setelah Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di...

Next Post
Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Merayakan Tahu Baru

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Merayakan Tahu Baru

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Sekretaris SRCC : UMSU Peringkat 12 dengan 86 Tim

Sekretaris SRCC : UMSU Peringkat 12 dengan 86 Tim

3 years ago

Jeritan Masa Kecil

7 years ago

Popular News

    Connect with us

    Berlangganan melalui Email

    Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Join 6 other subscribers

    Konten Terbaru

    • Yudisium FIKTI UMSU Luluskan Mahasiswa Internasional Pertama 19 June 2026
    • FKIP UMSU Ajak Lulusan Terus Belajar dan Jaga Nama Baik Almamater 19 June 2026
    • FKIP UMSU Kukuhkan 292 Lulusan Baru pada Yudisium Periode I Tahun 2026 19 June 2026

    Tentang Kami

    Pers Mahasiswa TEROPONG merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). UKM-LPM TEROPONG UMSU berdiri pada 12 Juli 2001 dan sampai saat ini merupakan satu-satunya UKM yang mengelola bidang penerbitan dan pers di tingkat UMSU.

    • Tentang
    • Advertisement
    • Contact

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    No Result
    View All Result
    • Artikel
    • Foto Jurnalistik
    • Kabar SUMUT
    • Kabar Kampus
    • Kabar Medan
    • Majalah
    • Newsletter
    • Sastra
    • Nasional
    • Internasional
    • Lainnya
      • Almamater
      • Ekonomi
      • Feature
      • Infografik
      • Lifestyle
      • Opini
      • Politik
      • Ragam
      • Sipongpong
      • Sobatpongpong
      • Sosok
      • Terkini

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In