Kebiasaan scroll membuat mahasiswa terbiasa menerima informasi dalam bentuk yang singkat dan cepat. Video berdurasi pendek, rangkuman, serta konten dengan informasi langsung menjadi bagian dari keseharian dalam mencari dan mengikuti informasi. Pola tersebut kemudian berhadapan dengan aktivitas membaca yang membutuhkan waktu dan perhatian lebih lama.
Dilansir dari Kompas.com, masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan waktu sekitar 3 jam 12 menit per hari untuk menggunakan media sosial. Sementara itu, waktu yang digunakan untuk membaca media pers hanya sekitar 1 jam 26 menit. TikTok bahkan tercatat menghabiskan rata-rata waktu penggunaan hingga 38 jam 26 menit per bulan. Angka tersebut setidaknya menunjukkan besarnya porsi waktu yang dihabiskan masyarakat pada media sosial dibandingkan aktivitas membaca media pers.
Perbedaan pola ini terlihat ketika mahasiswa harus membaca bahan akademik. Jurnal, buku, dan artikel ilmiah tidak selalu menyampaikan inti pembahasan dalam beberapa kalimat. Memahaminya membutuhkan proses membaca untuk mengetahui konteks, argumen, serta hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lainnya.
Kemudahan memperoleh jawaban juga mengubah cara mahasiswa mencari informasi. Berbagai platform memungkinkan jawaban ditemukan dalam waktu singkat. Namun, mendapatkan jawaban tidak selalu berarti memahami persoalan. Ketika hanya mencari bagian yang dibutuhkan, proses membaca sumber secara utuh dapat terlewatkan.
Padahal, membaca bukan sekadar cara untuk mendapatkan informasi. Membaca membantu mahasiswa memahami suatu persoalan dari berbagai sudut pandang, menemukan dasar sebuah argumen, serta membedakan informasi dengan pendapat. Proses tersebut penting terutama ketika mahasiswa dituntut untuk menyusun gagasan dan memberikan analisis sendiri.
Karena itu, penggunaan media sosial tidak perlu diposisikan sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan. Yang perlu dibangun adalah kebiasaan menyesuaikan cara menerima informasi dengan kebutuhannya. Informasi singkat dapat digunakan untuk mengetahui gambaran awal, sementara sumber yang lebih lengkap tetap diperlukan ketika membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam.
Membiasakan diri menyelesaikan satu bacaan sebelum berpindah ke informasi lain dapat menjadi langkah sederhana. Mahasiswa juga dapat memulai dari bacaan yang sesuai dengan bidang kuliah atau isu yang sedang diminati, kemudian secara perlahan menambah durasi dan jenis bacaan.
Di tengah budaya informasi yang serba cepat, kemampuan membaca secara utuh tetap memiliki tempat. Mahasiswa tidak hanya membutuhkan kemampuan menemukan jawaban, tetapi juga kemampuan memahami mengapa jawaban tersebut dapat dianggap tepat.





















