Teropongdaily, Medan- Sampai saat ini saya masih suka bingung dan heran, “Kok masih banyak ya anak muda yang daftar dan ikut seleksi untuk menjadi anggota polisi?” Apa sih yang dicari? Seragam? Harta? Enggak juga tuh. Masih banyak kok anggota kepolisian yang hidupnya jauh dari kata kaya. Apalagi kalau polisi tersebut jujur dan amanah. Dan terakhir kali ada polisi yang seperti itu puluhan tahun yang lalu. Namanya Jenderal Hoegeng.
Saya paham kalau tujuan saudara-saudara sekalian menjadi polisi untuk mengabdi demi melindungi kehormatan negara. Tapi saya berani bertaruh, mungkin hanya sebagian kecil dari saudara-saudara sekalian yang berpikir demikian. Sisanya ingin menjadi polisi mungkin karena mau balas dendam ke gebetan yang menolak cintamu saat di bangku sekolah. Dengan harapan, kelak ketika kau sudah menjadi anggota kepolisian, kau bisa membuatnya menyesal sembari memamerkan sederet penghargaan yang tersemat di dada.
Membahas soal polisi memang tidak akan ada habisnya. Buktinya beberapa waktu belakangan ini seluruh perhatian kita tertuju kepada mereka. Mulai dari kasus “Polisi Tembak Polisi”, “Tragedi Kanjuruhan”, hingga yang terakhir “Perempuan Berkebaya Merah.” Sejujurnya saya malas dan enggan untuk mengkritisi institusi yang satu ini. Selain memang sudah terlalu korup dan bobrok, rasanya seperti buang-buang waktu saja. Karena untuk apa membahas dan mengkritisi sesuatu yang sudah terlanjur busuk sampai ke akar-akarnya.
Mungkin sebagian dari pembaca ada yang berpikir, “Jangan salahin dan kritisi institusinya dong! Itu kan oknum!”. Tiap kali terjadi kasus yang melibatkan anggota kepolisian, mereka kerap menyebutnya dengan sebutan “oknum”. Oknum, oknum, dan oknum. Kenapa banyak sekali oknum di kepolisian? Apa jangan-jangan semua anggotanya adalah oknum?
Sudah menjadi tanggung jawab dan resiko bahwa hampir setiap masalah yang terjadi di akar rumput akan melibatkan institusi yang satu ini. Mulai dari kasus yang paling kecil: maling ayam, sampai yang besar dan menggemparkan: “Polisi Tembak Polisi”.
Beberapa bulan belakangan media nasional rutin memberitakan kasus penembakan seorang anggota kepolisian berinisial Brigadir J. Kasus tersebut bisa menjadi begitu besar karena melibatkan sosok seorang Jenderal Bintang Dua Kepolisian—Irjen FS—beserta bawahannya.
Dengan ditangkapnya seorang Jenderal Bintang Dua, bukan berarti kasusnya fokus di situ saja. Justru hal tersebut membuka kasus-kasus gelap lainnya seperti: industri judi yang juga didalaiangi oleh si tersangka. Dan hal ini bukan hanya mencoreng tapi juga menelanjangi sebuah institusi yang “katanya” berpihak dan mengayomi rakyat. Terbongkar semua rahasia busuk yang selama ini dipendam dengat rapat dan cermat. Ibarat Benteng Troya yang hancur dalam semalam hanya karena sebuah patung kuda, begitupun dengan semua skema licik Sang Irjen yang harus runtuh karena kasus ini.
Tak lama setelah itu, muncul kembali kasus yang melibatkan institusi suci ini. Tragedi Kanjuruhan. Tragedi ini merubah secara keseluruhan perspektif kita soal sepak bola Indonesia. Tragedi berdarah ini menelan 134 korban jiwa. Gelar perkara pun dilakukan guna mencari fakta yang sebenarnya.
Benar kata orang dahulu. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya kita menimbun bangkai, pasti akan tercium juga. Pihak kepolisian mengungkapkan kalau ini kesalahan supporter sebab mereka mabuk-mabukan. Bahkan mereka sampai merekayasa sebuah audio whatsapp yang mendiskreditkan para supporter tersebut. Mereka kira rakyat ini bodoh. Sudah jelas yang salah adalah pihak kepolisian. Sebab gas air mata yang mereka tembakkan lah, semua kekacauan bermula.
Dan kalian tahu bagaimana respon Ketua PSSI? Beliau memilih bermain bola bersama Presiden FIFA sementara di saat yang sama baru saja gugur korban jiwa yang ke sekian. Ironi! Ini ironi di atas ironi! Saya jauh lebih hormat kepada ABG labil problematik dibandingkan Ketua PSSI. Karena tiap kali dilanda masalah, ABG-ABG labil ini lebih memilih berdiam diri di kamar, merenung, dengerin lagu-lagu galau, dugem, atau paling jauh ya buat thread soal kebodohannya di twitter bukan malah main bola. Ratusan nyawa yang meninggal itu nyawanya manusia loh bukan boneka. Kok bisa-bisanya senyum dan tertawa riang bersama Presiden FIFA sambil main bola?!!
Setelah semua kejadian ini, Ketua PSSI beserta jajarannya seolah-olah cuci tangan dan tidak mau disalahkan. Mereka bahkan tidak mau mundur dari jabatan. Akhirnya saya paham mengapa beliau bersifat demikian. Ternyata beliau dulunya juga anggota di institusi tersebut. Jadi ya jangan heran kalau hobinya cuci tangan.
Untuk kasus yang serius dan butuh perhatian khusus, institusi ini sukanya bercanda. Giliran masalah remeh soal pornografi aja diseriusin.
Jadi beberapa hari yang lalu viral video pornografi “Perempuan Berkebaya Merah”. Tidak sampai tiga hari, kasus ini rampung. Dulu pun begitu ketika menangani kasus pornografi Siskaeee dan Dea onlyfans. Masalah di Indonesia tuh bukan cuma masalah pornografi aja loh!
Semakin hari semakin tidak jelas saja institusi yang satu ini. Inilah akibat dari indoktrinasi keliru yang ditanamkan ketika pendidikan dulu. Dari masih zaman pendidikan saja sudah ditanamkan kesadaran di kepala bahwa menjadi abdi negara itu jauh lebih berkelas dibandingkan profesi lainnya. Merasa paling hebat dan superior dibanding yang lain. Hingga akhirnya melahirkan anggota-anggota yang sifatnya megalomaniak juga narsistik. Orang-orang megalomaniak dan narsistik inilah yang suatu hari nanti akan menjadi Jenderal. Jadi jangan heran kalau kelakuannya nyeleneh. Lihat aja tuh Ketua PSSI. Narsisnya bukan main.
Belajarlah dari Kepolisian Itaewon. Ketika terjadi kasus Halloween kemarin, para petinggi dan pemimpin kepolisiannya mau meminta maaf. Meskipun hal tersebut ditentang oleh anggota mereka sendiri.
Melihat kekisruhan dan betapa tidak becusnya institusi ini, selama menulis ini saya sempat berpikir, “Bisa nggak sih, kita hidup tanpa polisi?”
Jawabannya: bisa.
Hal tersebut bisa kita mulai dengan tidak terlalu menggantungkan diri dan urusan pribadi kita kepada institusi yang satu ini. Mengutip dari apa yang saya baca:
“Langkah konkret paling pasti yang bisa kita lakukan hari ini adalah dengan membuat mereka usang, yaitu, dengan memotong rantai kebiasaan-kebiasaan kita dalam menggantungkan hidup kepada polisi; termasuk mengglorifikasi ketika mereka tengah melakukan tugasnya. Dengan kata lain, sudah sepatutnya pula kita tidak melibatkan peran polisi dalam hidup kita.
Sebab kejahatan dan kriminalitas adalah sebuah bentuk konstruksi sosial yang bergantung pada kemiskinan struktural. Hal tersebut lahir seiring dengan eksisnya negara dan segala bentuk institusi otoritasnya. Dengan kata lain, negara sendirilah yang membuat rakyatnya tidak sejahtera. Maka, meningkat dan menurunnya angka kriminalitas di setiap wilayah tidaklah ada hubungannya dengan peran polisi sebagai pelindung dan pengayom. Karena kehadiran polisi sejak zaman dahulu kala hanyalah sebagai pelayan kepentingan penguasa dan kapital. Jika ada istilah bahwa sejarah adalah kejadian yang akan terus berulang, maka peran polisi saat ini tak lain dan tak bukan adalah sebuah bentuk absolut dari kolonialisasi modern.”
Tulisan ini hanyalah sebuah kritik dan saran kepada Kepolisian Zimbabwe. Sebab saya yakin Kepolisian Indonesia tidak begitu. Karena Polisi Indonesia itu yang terbaik. PRESISI banget lah pokoknya.
Tr : Rizali
Sumber foto : vectorstock






















