Teropongdaily, Medan-Harga kebutuhan pokok terus naik. Ongkos transportasi dan biaya sekolah juga ikut melambung. Di tengah kondisi ekonomi dunia yang melambat dan pasar dalam negeri yang tidak menentu, masyarakat Indonesia kini merasakan tekanan berat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi tahunan mencapai 6,8%, angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Kenaikan harga beras, cabai, dan minyak goreng menjadi penyebab utama. Sementara itu, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Agustus lalu ikut memicu lonjakan biaya transportasi dan logistik.
Sejumlah ekonom menjelaskan bahwa situasi ini terjadi karena beberapa faktor. Pertama, nilai tukar rupiah melemah hingga Rp. 16.500 per dolar Amerika Serikat (AS), menyebabkan harga barang impor seperti bahan pangan dan energi naik. Kedua, daya beli masyarakat menurun karena upah yang tidak naik dan lapangan kerja yang semakin terbatas. Ketiga, kebijakan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia untuk menahan laju inflasi justru memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Krisis ini tidak hanya menekan keuangan keluarga, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental. Banyak keluarga kini harus berutang demi memenuhi kebutuhan pokok. Lembaga keuangan mikro bahkan mencatat peningkatan pinjaman konsumtif hingga 30% dalam tiga bulan terakhir.
Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Medan, angka pengangguran muda meningkat karena perusahaan menunda penerimaan karyawan baru. Sementara itu, pekerja informal seperti pengemudi ojek daring mengaku bahwa pendapatan mereka menurun akibat biaya operasional yang semakin tinggi.
Pemerintah mencoba meredam dampak krisis melalui beberapa kebijakan, seperti:
– Subsidi tambahan untuk pangan dan BBM,
– Program padat karya dan bantuan sosial digital,
– Penyesuaian pajak bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mendorong kegiatan usaha kecil.
Meski demikian, banyak pengamat menilai bahwa kebijakan tersebut masih bersifat jangka pendek. Tanpa perbaikan mendasar di sektor pangan, energi, dan ketenagakerjaan, beban hidup masyarakat diperkirakan akan tetap berat.
Namun, di tengah situasi sulit, sejumlah inisiatif warga memberikan harapan. Di beberapa daerah mulai tumbuh koperasi pangan, pertanian kota (urban farming), dan pasar gotong royong. Gerakan-gerakan kecil ini menunjukkan semangat saling membantu dan kebersamaan untuk bertahan di masa sulit.
Krisis ekonomi 2025 menjadi cermin betapa rapuhnya daya tahan ekonomi rumah tangga Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil dan memperkuat ekonomi lokal. Sebab, pada akhirnya, kekuatan bangsa ini terletak pada keteguhan masyarakatnya untuk saling menopang dan bertahan bersama.
Tr: Widia Ningsih
Sumber Foto: kibrispdr.org






















