Diskusi publik bertajuk Akumulasi Kemarahan Buruh & Rakyat Sumatera Utara menyoroti pelemahan gerakan buruh dan mahasiswa yang digelar di Lapangan Tengah Universitas Islam Sumatera Utara (UISU).
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pemantik, di antaranya Irawanto dari FPBI, Lis Erika Faradila, S.H dari F-SPMS, Marshall dari Barsdem, serta M. Alinafiah Matondang, S.H., M.Hum dari LBH Medan.
Dalam pemaparannya, Irawanto menegaskan bahwa pelemahan gerakan buruh tidak terjadi secara alami, melainkan melalui proses yang sistematis dan terstruktur.
“Dalam beberapa tahun terakhir kita bisa melihat bahwa pemberangusan gerakan itu terjadi secara masif dan sistematis. Ini bukan sesuatu yang kebetulan, tetapi memang ada upaya yang terus dilakukan untuk melemahkan kekuatan gerakan buruh,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Ia juga menyoroti perubahan peran media yang dinilai tidak lagi berpihak pada gerakan rakyat.
“Media hari ini tidak lagi menjadi alat untuk melawan atau mengontrol kekuasaan, tetapi justru sudah menjadi bagian dari kekuatan yang bekerja sama dengan rezim. Bahkan sebagian besar sudah berpihak dan tidak lagi berdiri di kepentingan rakyat,” katanya.
Lebih lanjut, Irawanto menjelaskan bahwa pelemahan gerakan tidak hanya dilakukan secara represif, tetapi juga melalui cara-cara yang lebih halus seperti kooptasi atau “pembungkaman dari dalam”.
“Pemberangusan itu bukan hanya dengan cara-cara terbuka, tetapi juga dengan cara ‘diinapkan’, di mana gerakan itu dilemahkan dari dalam. Ini yang justru berbahaya, karena secara perlahan menghilangkan daya kritis dan semangat perlawanan,” jelasnya.
Ia juga menyinggung kondisi gerakan mahasiswa yang dinilai ikut terdampak, sehingga kehilangan momentum dan kekuatan dalam melakukan perlawanan sosial.
“Gerakan mahasiswa hari ini boleh dibilang kehilangan momentum, karena basis gerakannya sudah dihabisi dari luar kampus. Kita seperti kembali ke titik nol, dan ini harus jadi refleksi bersama bahwa kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan,” tegasnya.
Tr: Rifky & Rani




















