Gunung Krakatau menjadi salah satu gunung api paling dikenal dalam sejarah Indonesia. Letusan dahsyat yang terjadi pada 1883 tidak hanya menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, tetapi juga memicu tsunami yang melanda wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda. Peristiwa tersebut menjadikan Krakatau sebagai salah satu catatan penting dalam sejarah aktivitas vulkanik dunia.
Dilansir dari Smithsonian Global Volcanism Program, Gunung Krakatau berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Letusan besar pada 1883 menyebabkan runtuhnya kaldera Krakatau dan menghancurkan beberapa bagian gunung. Setelah peristiwa tersebut, aktivitas vulkanik kembali membentuk Gunung Anak Krakatau yang muncul dari kawasan kaldera dan mulai mengalami erupsi sejak 1927.
Hingga kini, Anak Krakatau masih menjadi salah satu gunung api aktif di Indonesia. Aktivitasnya terus mengalami perubahan, mulai dari keluarnya material vulkanik, abu, hingga letusan dengan intensitas yang berbeda. Kondisi tersebut membuat perkembangan gunung api ini terus dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Dilansir dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gunung Anak Krakatau baru-baru ini mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Erupsi tersebut mulai tercatat pada 4 September 2026 dan berakhir pada 6 September 2026. Meski erupsi menerus telah berakhir, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
PVMBG menyatakan aktivitas vulkanik tetap perlu diawasi karena setelah episode erupsi menerus berakhir, masih terjadi aktivitas erupsi susulan. Berdasarkan pemantauan instrumental, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau juga masih menjadi perhatian sehingga pengamatan terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi gunung.
Aktivitas Anak Krakatau tidak hanya berdampak pada wilayah di sekitar Selat Sunda. Dilansir dari Reuters, erupsi yang terjadi pada awal September 2026 menyebabkan abu vulkanik mengganggu aktivitas penerbangan dan berdampak pada sejumlah bandara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas gunung api dapat memberikan dampak yang lebih luas, termasuk terhadap transportasi dan aktivitas masyarakat.
Sejarah Anak Krakatau juga mengingatkan masyarakat terhadap peristiwa tsunami Selat Sunda pada 2018. Saat itu, sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau mengalami longsoran yang kemudian memicu tsunami di wilayah pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa perubahan struktur gunung api dapat menimbulkan risiko bencana lain selain erupsi.
Karena itu, masyarakat, wisatawan, maupun pihak yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda perlu memperhatikan informasi resmi dari pemerintah. Kementerian ESDM melalui PVMBG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tertentu dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau serta mengikuti rekomendasi yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.
Pada akhirnya, Gunung Anak Krakatau bukan hanya menyimpan sejarah letusan besar masa lalu, tetapi juga menunjukkan bahwa aktivitas alam terus berlangsung hingga saat ini. Pemantauan yang berkelanjutan, informasi yang akurat, dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas gunung api.
Tr: Dahlian





















