Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan awal November di zona merah. Sejalan dengan pelemahan mata uang Asia yang turut melemah, rupiah kompak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Senin (02/11/2026).
dikutip dari Suara.com, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tingginya modal asing yang keluar terus menekan rupiah hingga sore nanti.
“Sentimen domestik umumnya masih lemah oleh sell off asing di pasar ekuitas. Mata uang Asia umumnya terpantau dibuka melemah. Range Rp18.100 hingga Rp18.200,” jelasnya.
Lukman Leong, menyebut pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini cenderung stagnan. Kondisi tersebut dipicu sikap wait and see pelaku pasar yang menanti rilis data ekonomi domestik.
“Rupiah diperkirakan dibuka datar, dengan investor menantikan serentetan data ekonomi domestik siang ini di antaranya inflasi dan perdagangan,” lanjut Lukman
Lukman mengatakan penurunan harga minyak mentah dunia di tengah harapan perundingan damai untuk mengakhiri perang Amerika Serikat dan Iran berpotensi memberikan dukungan bagi rupiah. Namun, sentimen domestik masih cenderung lemah akibat aksi jual investor asing di pasar saham.
“Harga minyak mentah dunia yang turun seiring harapan perundingan damai untuk mengakhiri perang AS-Iran dapat mendukung rupiah. Namun, sentimen domestik umumnya masih lemah akibat aksi jual investor asing di pasar ekuitas,” katanya.
Sentimen serupa disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman. Ia menilai tekanan sepanjang pekan lalu mencerminkan kombinasi risiko global dan kerentanan kepercayaan investor domestik.
“Inflasi Oktober, arah harga minyak, dan arus modal asing menjadi penentu,” ujar Rizal
dikutip dari infobanknews, Andry menyebut, perhatian pasar pada pekan ini akan tertuju pada pemilihan paruh waktu AS (US midterm elections) pada 3 November dan laporan ketenagakerjaan AS periode Oktober yang dijadwalkan dirilis Jumat.
“Selain itu, laporan kinerja keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar juga akan menjadi faktor penting yang memengaruhi sentimen risiko global,” tambahnya.
Sementara itu, The Fed masih mempertahankan sikap hawkish setelah menahan suku bunga acuan (FFR) pada level 3,75–4,00 persen pada Oktober 2026
Tr : raihanna





















