Teropongdaily, Medan-Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) dan Asosiasi Profesi Fotografi Indonesia (APFI) membahas peluang serta tantangan dunia visual di tengah kemajuan kecerdasan buatan (AI) dalam diskusi publik yang digelar di Bursa Efek Indonesia, Medan.
Di tengah masifnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang mulai merambah dunia visual, para penggiat fotografi ditantang untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menangkap peluang baru yang lahir dari perubahan teknologi ini.
Ketua PFI, Rizky Cahyadi, menyatakan bahwa AI bukan ancaman, melainkan pemicu lahirnya karya yang lebih kuat secara emosional dan visual.
“Meskipun ini eranya AI, saya yakin kita bisa menghasilkan karya yang lebih baik dan lebih menarik dibandingkan hasil AI. Saya berharap kita tetap berkarya lewat lensa kamera,” ungkapnya, Kamis (31/07/2025).
Ia menekankan bahwa kekuatan sebuah foto terletak pada pengalaman serta kedekatan batin pembuatnya.
“Kalau AI menghasilkan gambar dari kata kunci, kita menghasilkan karya dari apa yang kita lihat dan rasakan. Itu yang menjadikan foto punya nilai yang dalam,” tambahnya.
Ketua APFI, Dr. Muhammad Said Harahap, menegaskan bahwa teknologi cukup digunakan sebagai pemicu ide, namun daya cipta dan kepekaan estetika tetap menjadi milik manusia.
“AI itu hanya tools untuk membantu menentukan ide atau tema ketika sedang buntu. Tapi kita harus lebih kreatif dan lebih pintar dari AI. Estetika sebuah foto tetap hadir ketika kita yang mengambilnya sendiri,” ujarnya.
Ia berharap para peserta tetap mengutamakan orisinalitas dan terus menciptakan karya, tanpa terlalu bergantung pada AI.
“Teruslah berkarya, mau pakai kamera Canon, Nikon, Sony, atau smartphone. Jangan terlalu bergantung pada AI. Utamakan kepekaan dan estetika. Semoga karya kalian diapresiasi oleh siapa pun, baik publik maupun lembaga,” tutup Said.
Tr: Muhammad Wira Aulia & Aidil Daffa





















