Teropongonline, Medan- “Mengobati adalah menolong, bukan berbisnis“.
Ya mungkin ini adalah kalimat singkat yang tepat ditujukan kepada seorang dr.Aznan Lelo.
Prof. Dr. Aznan Lelo, PhD, SpFK atau lebih akrab disapa dr. Aznan Lelo, seorang dokter yang dikenal arif dan bijaksana serta rendah hati. dr. Aznan lahir di Bukittinggi pada 2 Desember 1951. Aznan muda sudah terbiasa hidup mandiri terutama dari segi ekonomi. Benar saja, biaya kuliah ia tutupi sendiri dengan memberikan les kepada anak-anak SMA yang haus akan ilmu.
Pria cerdas ini beranggapan profesi seorang dokter seharusnya bisa bekerja secara ikhlas, dr. Aznan berprinsip seorang dokter hendaknya tidak boleh menetapkan tarif dari jasanya. Berangkat dari prinsip inilah dr.Aznan membuka praktik di kediamannya tanpa memasang tarif untuk pasiennya.
Dokter ahli fakmakologi ini juga tak segan memarahi pasiennya yang bertanya mengenai tarifnya. Sungguh ini benar – benar sikap yang sangat mulia ditengah mahalnya biaya kesehatan di zaman sekarang. dr. Aznan pun tak menampik jika ia tidak terlalu bernafsu memikirkan harta dan tahta duniawi.
Dibalik itu, dr.Aznan Lelo juga merupakan Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, karena aktivitasnya yang juga merupakan seorang dosen itu dirinya baru bisa membuka praktik pada sore hari dikediamannya jalan Puri, Medan.
Yang pergi berobat kepadanya pun sangat beragam, mulai dari yang beroda empat, beroda dua hingga yang tak beroda pun berlomba – lomba menghampirinya. Bahkan tak jarang pasien dari luar daerah rela datang kepadanya untuk sekedar berobat ataupun berkonsultasi.
Tentu sangat sedikit ditemukan dokter berhati mulia seperti dr.Aznan, Apalagi ilmu pendidikan beliau yang bisa dikatakan sangat gemilang. dr.Aznan pernah mencicipi bangku kuliah di Australia hingga meraih gelar PhD nya pada tahun 1987.
Dokter baginya adalah profesi yang tidak boleh memberatkan pelanggannya, sama halnya seperti seorang guru yang tak boleh memberatkan siswanya dan pengacara yang tidak boleh juga memberatkan client nya.
Hal unik lainnya adalah dokter yang dikenal ramah ini tidak pernah dan tidak mau memasang papan nama di kediaman tempat ia membuka praktik perobatan.
“Kalau saya buat papan nama, artinya saya berbisnis,” ya kurang lebih beginilah respon beliau jika ditanya mengapa ia tak memakai papan nama di rumahnya.
dr.Aznan yakin jika setiap pekerjaan yang dilakukan secara ikhlas akan berdampak baik kedepannya. Ia mencoba menerapkan prinsip keikhlasan dalam setiap kegiatannya hingga tak sedikit yang memberinya gelar sebagai dokter ikhlas.
Dalam satu hari dr.Aznan bisa menerima kurang lebih 30 pasien. Ia tak sendiran, dr.Aznan selalu dibantu oleh istri dan kerap dibantu oleh mahasiswanya yang sedang Co-Ass.Tak jarang ditemui pasien hanya membayar Rp.5.000,- hingga tak membayar sedikitpun. Namun kembali ia tak sedikitpun menyurutkan niatnya yang hanya menjalankan tugasnya sebagai seroang dokter.
Banyak pasien yang sangat puas dan bahagia atas pelayanan dr.Aznan ini. Banyak juga pasien yang semulanya tak kunjung menemukan kesembuhan, justru bisa kembali sehat setelah ditangani oleh tangan dingin seorang dr.Aznan lelo.
“Ayah saya sudah lama sakit, sudah pergi kemana-mana gak sembuh-sembuh juga, dapat rekomendasi kesini (dr.Aznan) dan sudah beberapa bulan ini semakin membaik kondisi ayah saya, cocok saja disini,” ungkap Mariyanti yang merupakan anak dari pasien dr.Aznan.
Tak hanya pasien, dr.Aznan juga sosok yang hebat dan baik hati dalam mendidik mahasiswanya. Ia tak ingin ilmunya hanya berhenti padanya, ia sangat berharap besar kembali muncul dokter-dokter dengan hati dermawan dimasa yang akan datang. Oleh karena itu ia selalu berpesan kepada mahasiswanya untuk selalu menjadi dokter yang amanah dengan tugasnya.
Feature ini merupakan karya dari Mhd. Iqbal, Pemimpin Umum UKM-LPM Teropong UMSU kepengurusan 2022/2023. Karya ini berhasil meraih penghargaan Juara 1 pada Neraca Journalism Week (NJW) 2021 yang diselenggarakan oleh LPM Neraca Politeknik Negeri Medan pada 04 September 2021 lalu.



















