Dalam refleksi 71 tahun Konferensi Asia-Afrika Bandung, solidaritas Asia-Afrika dinilai kembali diuji relevansinya di tengah konflik global, sekaligus didorong untuk bertransformasi menjawab tantangan zaman.
Pengamat politik sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FISIP UMSU), Drs. Shohibul Anshor Siregar, M.Si., menilai semangat persatuan Asia-Afrika yang lahir dari Konferensi Bandung masih relevan bahkan semakin mendesakdihidupkan kembali dalam menghadapi dinamika geopolitik saat ini.
“Solidaritas Asia-Afrika memberikan ruang bagi negara berkembang untuk tidak terjebak dalam kepentingan blok besar, melainkan berdiri sebagai kekuatan kolektif yang memperjuangkan keadilan global,” ujarnya, Jumat (24/04/2026).
Ia menyebut adanya pergeseran cara pandang generasi muda terhadap konsep solidaritas tersebut.
“Generasi muda melihat solidaritas dalam bentuk yang lebih kontekstual, seperti keadilan iklim, kedaulatan data, dan kesenjangan teknologi. Ini menunjukkan semangat Bandung tidak hilang, tetapi bertransformasi,” jelasnya.
Menurutnya, kerja sama Selatan-Selatan juga menjadi strategi penting memperkuat ketahanan negara.
“Kerja sama Selatan-Selatan menjadi kunci ketahanan di tengah ketidakpastian pasar, kolaborasi ini mampu memperkuat posisi tawar negara berkembang dalam forum internasional,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ke depan solidaritas Asia-Afrika harus diarahkan pada program yang lebih menyentuh masyarakat, seperti ketahanan pangan, pertukaran pelajar, serta penguatan sektor kesehatan.
“Solidaritas ini tidak boleh berhenti pada level elite, tetapi harus benar-benar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan rakyat,” tuturnya.
Tr: Yuda & Winsi



















