• Latest
  • Trending
  • All
  • Kabar Kampus
  • Feature
  • Opini
  • Sosok

Rasisme Mencederai Keberagaman

21 August 2019
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026

4 February 2026
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

Survei: Pandangan Mahasiswa UMSU terhadap Peluang dan Tantangan Kerja di Era Digital

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

UMSU Mart Berhenti Beroperasi

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

4 February 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

FKIP UMSU Menyokong Pembelajaran Visual melalui Ruang Podcast

29 January 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

Kecemasan Mahasiswa di Tengah Isu Perang Dunia Ketiga

29 January 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

29 January 2026
UKM LPM Teropong Pelajari Strategi Bisnis Media dalam Kunjungan ke Harian Analisa

UKM LPM Teropong Pelajari Strategi Bisnis Media dalam Kunjungan ke Harian Analisa

26 January 2026
Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Akademisi UMSU Kritik Resolusi PBB soal Timur Tengah

25 January 2026
Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

25 January 2026
Pengamat Politik UMSU Soroti Putusan MK: Wartawan Tidak Bisa Langsung Dipidana

UMSU Kukuhkan Guru Besar Energi Terbarukan

24 January 2026
  • Tentang
  • Advertisement
  • Contact
Monday, 9 February 2026
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
BERLANGGANAN
UKM-LPM Teropong UMSU
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
No Result
View All Result
UKM-LPM Teropong UMSU
No Result
View All Result
Home Opini

Rasisme Mencederai Keberagaman

by REDAKSI TEROPONG
21 August 2019
in Opini
Reading Time: 4 mins read
0
0
SHARES
21
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp


Teropongonline, Medan – Indonesia negara majemuk yang memiliki etnis lebih dari 1.340 suku (menurut sensus BPS) dan lebih dari 300 suku kelompok etnik yang tersebar luas di bumi Nusantara dari Sabang sampai Marauke. Dari beragam suku yang ada, sudah seharusnya seluruh bangsa Indonesia bangga akan kekayaan keberagaman ini. Selain bangga, kita juga sepatutnya untuk menjaga keharmonisan keberagaman dengan keterikatan “Walau Berbeda Namun Tetap Satu Jua” sebagai mana arti dari Semboyan Negara Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

RelatedPosts

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Kecemasan Mahasiswa di Tengah Isu Perang Dunia Ketiga

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Tapi sayangnya semboyan yang tertulis jelas di cengkraman kaki burung Garuda Pancasila yang tak lain dan tak bukan sebagai lambang Negara Indonesia itu sepertinya hanya dianggap ‘pajangan’ tulisan tanpa arti semata. Itu terbukti dengan maraknya terjadi kasus ujaran kebencian, paham radikal yang bertentangan dengan Ideologi Indonesia dan Rasisme. Seperti apa yang terjadi baru-baru ini di Surabaya terhadap belasan Mahasiswa Papua.

Insiden yang mencederai moral Indonesia ini terjadi pada hari Jum’at (16/08) di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. Diduga kuat, dari kutipan beberapa media online mainstream bahwasnya awal perkara dikarenakan terdapat Bendera Merah Putih masuk ke dalam selokan dikarenkan tiang bendera patah. Orang-orang  yang berada di dalam Asrama bukannya tidak mau membenarkan tapi dari pengakuan bahwa mereka tidak tau. Kendatipun begitu, api kemarahan sudah tersulut. Orang-orang di depan asrama mahasiswa Papua semakin banyak, ada warga sipil, beberapa Ormas, hingga para Polisi dan TNI yang mejaga seputaran Asrama tersebut.

Ujaran-ujaran rasis penuh kebencian mulai terlontar dari mulut massa dikarenakan geram dengan para mahasiswa sebab tak kunjung juga keluar dari dalam asrama. Hingga malam (16/08) tiba mahasiswa tak kunjung jua keluar asrama, suasana di luar mencekam. Mahasiswa menahan lapar sepanjang malam sembari ketakutan. Terdapat anjing polisi penjaga dan juga tim Respati, pasukan khusus Polrestabes Surabaya disiagakan demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi oleh massa yang menunggu para mahasiswa keluar dari dalam asrama.

Beruntung keesokan harinya (17/08) mahasiswa Papua lain datang ke asrama membawa makanan. Sayang merekapun bernasib sama, tak bisa keluar. Mahasiswa yang berada di dalam asrama yang tadinya hanya belasan orang bertambah menjadi puluhan, lebih dari 40 mahasiswa terjebak di dalam asrama. Akhirnya aparat yang berada di lokasi tak tahan dengan teguh pendirian mahasiswa yang tetap berada di dalam asrama. Sore (17/08) gas air mata dilepaskan oleh polisi dan pintu asrama didobrak, seluruh mahasiswa di giring ke Polrestabes Surabaya dengan tujuan akan diperiksa lebih lanjut. Tak bertahan lama, tidak terbukti bersalah seluruh mahasiswa kembali di pulangkan ke asrama pada hari itu juga.

Perlakuan tidak pantas yang diterima oleh mahasiswa Papua tercium ke seluruh pelosok Negeri Indonesia tak terkecuali hingga ke Papua. Imbasnya, Senin (19/08) pagi kerusuhan pecah di Manokwari, Papua Barat. Terjadi aksi di Manokwari, Jalan diblokade selain itu gedung DPRD Papua Barat juga dibakar oleh massa aksi. Aksi-aksi serupa juga menyusul di bagian Daerah lainnya tak terkecuali di Medan. Dengan tuntutan yang sama, usia kemerdekaan ke-74 sudahi diskriminasi dan rasis di Indonesia.

Rasisme

Rasisme bukan barang baru di Indonesia. Sebelumnya juga pernah terjadi kasus serupa, dan ini terulang lagi seolah seperti sudah mengakar di bumi Indonesia. Kasus-kasus perihal rasisme juga terkesan dibiarkan begitu saja, bergulir bagai bola salju. Sudah seharusnya, hal yang dapat memecah belah bangsa seperti ini harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Rasisme bersifat destruktif yang mampu melemahkan orang atau sekelompok orang, etnis juga komunitas tertentu dengan menurunkan nilai maupun identitas, menciptakan kesenjangan antara yang satu dengan satu lainnya.

Dibelahan bumi lainnya, rasisme menjadi permasalahan cukup serius terbukti dengan maraknya mengkampanyekan mengecam keras pelaku rasisme. Misal, Jerman contohnya Negara yang memiliki julukan Negeri Nazi ini menghukum berat pelaku rasisme dengan denda lebih dari 800 miliar. sedangkan Indonesia? sepertinya Undang-Undang No 29 Tahun 1999 belum cukup ‘sakti’ menjadi tamengperlakuan tindak rasisme yang ada di Negeri yang berpenduduk lebih dari 260 juta jiwa ini. 

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) semestinya juga ikut memandang serius bagaimana cara agar tindak rasisme tidak akan pernah terjadi lagi di Indonesia atau paling tidak mampu menurun drastis dari sebelumnya. Dengan legalitas yang ia punya, Komnas HAM mampu berperan aktif untuk menjaga hak-hak setiap manusia yang telah melekat sejak lahir. Agar nantinya tidak akan pernah terjadi konflik horizontal sesama warga Indonesia.

Merawat Keberagaman

Bangsa Indonesia adalah bangsa plural, yang memiliki suku lebih dari satu. Yang setiap sukunya memiliki keunikan, ciri khas dan kebanggaan tersendiri dari apa yang ditampilkan untuk Indonesia. Namun terkadang tidak semua warga yang baik paham akan hal itu, dikarenakan ketidakpahaman maka terjadilah ketidaksengajaan yang tidak diinginkan, mencederai keberagaman yang membanggakan ini. Maka kedepannya berperan aktiflah pemerintah untuk menggaungkan ulang keberagaman dengan sosialisasi sederhana, mulai dari pasang iklan di tv misalnya hingga sosialisasi ke daerah-daerah terpencil.

Selain itu, merawat bangsa yang plural agar menjadi bangsa yang toleran damai dan saling menghargai dapat juga dengan cara menumbuhkan kesadaran yang paling dasar yaitu mengakui keberagaman sebagai tercipta indahnya kerukunan, karena kesadaran sederhana seperti ini yang sekarang perlahan tapi pasti semakin terkikis. Selain itu, jaminan hak setiap manusia yang diterima dari pemerintah harus sama, tidak ada wilayah ataupun suku tertentu mendapat perlakuan istimewa, juga ciptakanlah integrasi soisal yang berbasis kebudayaan dan junjung tinggi Bhineka Tunggal Ika.

“Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali” -K.H Abdurrahman Wahid (GusDur), Presiden Indonesia ke-4.

Tr : Mahdaraf Sanjani

Tags: #lpmteropong#opini#rasisme#teropongonlinepersmaUMSU
Previous Post

Jaksa Bentak Terdakwa Kasus Penipuan Jual Beli Mobil Bekas

Next Post

Tahun keempat, Tao Silalahi Arts Festival 2019 Siap Digelar

Related Posts

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

by REDAKSI TEROPONG
4 February 2026
0

Teropongdaily, Medan-Di benak banyak orang, seni identik dengan keindahan, kreativitas, dan kebebasan berekspresi. Lukisan yang digantung di galeri, patung dipajang...

UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

Kecemasan Mahasiswa di Tengah Isu Perang Dunia Ketiga

by REDAKSI TEROPONG
29 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Belakangan ini, isu tentang Perang Dunia Ketiga semakin sering terdengar. Awalnya, hal tersebut terasa seperti cerita yang jauh dan...

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

by REDAKSI TEROPONG
25 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Mahasiswa sejak dulu dikenal sebagai agen perubahan dan penjaga nurani publik. Dalam dinamika sosial dan politik bangsa, mahasiswa memiliki...

Pengamat Politik UMSU Nilai Tekanan AS terhadap Iran Kian Agresif

Penahanan Peserta Demonstrasi Dinilai Mengancam Kebebasan Demokrasi

by REDAKSI TEROPONG
18 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Penahanan sejumlah peserta dalam aksi demonstrasi besar kembali menjadi perhatian publik. Tindakan aparat yang mengamankan dan menetapkan beberapa peserta...

Child Grooming: Kejahatan Sunyi yang Tumbuh dari Kelengahan Sosial

Child Grooming: Kejahatan Sunyi yang Tumbuh dari Kelengahan Sosial

by REDAKSI TEROPONG
12 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Child grooming kerap dipahami secara keliru sebagai interaksi biasa yang kebetulan berujung pada kekerasan. Padahal, grooming bukanlah peristiwa spontan,...

Rindu dalam Diam

KUHP Baru: Antara Pembaruan Hukum dan Tantangan Kebebasan Sipil

by REDAKSI TEROPONG
9 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Sejak Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru resmi diberlakukan pada awal 2026, Indonesia memasuki fase baru dalam sistem hukum...

Next Post

Tahun keempat, Tao Silalahi Arts Festival 2019 Siap Digelar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Child Grooming: Kejahatan Sunyi yang Tumbuh dari Kelengahan Sosial

Ketum PP ‘Aisyiyah Melakukan Kunjungan ke Proyek Kampus Terpadu UMSU

4 weeks ago
Kuliah Umum FAI UMSU Hadirkan Direktur Direktorat Ekonomi

Peringati Hari Nusantara, Mahasiswa IKO UMSU Adakan Cullens Vol 2: Folk Culture

1 year ago

Popular News

    Connect with us

    Berlangganan melalui Email

    Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Join 5 other subscribers

    Konten Terbaru

    • Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026 3 February 2026
    • Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang? 2 February 2026
    • Survei: Pandangan Mahasiswa UMSU terhadap Peluang dan Tantangan Kerja di Era Digital 31 January 2026

    Tentang Kami

    Pers Mahasiswa TEROPONG merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). UKM-LPM TEROPONG UMSU berdiri pada 12 Juli 2001 dan sampai saat ini merupakan satu-satunya UKM yang mengelola bidang penerbitan dan pers di tingkat UMSU.

    • Tentang
    • Advertisement
    • Contact

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    No Result
    View All Result
    • Artikel
    • Foto Jurnalistik
    • Kabar SUMUT
    • Kabar Kampus
    • Kabar Medan
    • Majalah
    • Newsletter
    • Sastra
    • Nasional
    • Internasional
    • Lainnya
      • Almamater
      • Ekonomi
      • Feature
      • Infografik
      • Lifestyle
      • Opini
      • Politik
      • Ragam
      • Sipongpong
      • Sobatpongpong
      • Sosok
      • Terkini

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In