Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Laura Amandasari, membagikan kisah pengalamannya menempuh pendidikan di kampus berbasis Islam sebagai mahasiswa nonmuslim dalam podcast Close the Door, Selasa (24/02/2026).
Dalam perbincangan tersebut, Laura menceritakan awal mula keputusannya memilih UMSU karena pertimbangan akademik.
“Saya teringat pesan guru saya semasa SMA, agar melanjutkan pendidikan di kampus dengan akreditasi unggul. Setelah mencari referensi melalui internet, saya menemukan UMSU yang saat itu berakreditasi A. Saya lihat ada kolom agama saat pendaftaran. Jadi dari situ saya berpikir kampus ini terbuka untuk semua,” ujarnya.
Keputusannya sempat menimbulkan kekhawatiran di keluarga. Laura mengungkapkan, sang ayah awalnya menyarankan agar ia pindah ke kampus lain setelah mengetahui UMSU merupakan perguruan tinggi Muhammadiyah.
“Waktu itu Bapak sempat kaget, apalagi saat saya mengikuti Masta kolosal yang membahas materi keislaman. Bapak bilang, pindah saja kalau tidak cocok,” tuturnya.
Meski demikian, Laura memilih bertahan dan meminta waktu satu semester untuk membuktikan bahwa pilihannya tidak keliru.
“Seiring waktu, saya menemukan bahwa lingkungan kampus sangat terbuka dan menjunjung tinggi toleransi, sehingga saya merasa nyaman,” ucapnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut mematahkan stereotipe tentang kampus berbasis agama.
“Teman-teman di sini tidak memandang minoritas secara negatif. Justru saya merasa dihargai,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kekhawatiran tentang diskriminasi tidak terbukti. Ia bahkan dipercaya menjadi sekretaris umum dalam salah satu komunitas Muhammadiyah dengan 193 anggota, serta berharap pengalamannya membuktikan bahwa keberagaman dan toleransi dapat tumbuh harmonis di lingkungan kampus.
Tr: Nabila & Zahra





















