Teropongdaily, Medan-Tagar #SaveRajaAmpat mencuat di media sosial, terutama Instagram. Banyak yang membagikan foto laut biru jernih, karang warna-warni, hingga penyu dan hiu zebra yang berenang bebas. Namun di balik keindahan itu, Raja Ampat menghadapi ancaman nyata yang terus memburuk: ekspansi tambang, pariwisata yang tak terkendali, dan pencemaran laut.
Menurut Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), hingga 2024 terdapat setidaknya 14 konsesi tambang aktif di Papua Barat Daya, termasuk di wilayah Raja Ampat. Sebagian besar untuk nikel logam yang dibutuhkan dalam produksi baterai kendaraan listrik. Namun, aktivitas tambang ini telah merusak hutan mangrove, mencemari sungai, dan membawa lumpur ke laut yang berdampak pada rusaknya ekosistem terumbu karang.
Di sisi lain, lonjakan kunjungan wisatawan ke Raja Ampat juga membawa tantangan tersendiri. Data Dinas Pariwisata Raja Ampat menunjukkan lebih dari 30.000 wisatawan masuk ke kawasan ini pada tahun 2023. Namun, tak semua kegiatan wisata ramah lingkungan. Kapal-kapal wisata masih menjatuhkan jangkar sembarangan, dan infrastruktur pengolahan limbah di banyak penginapan belum memadai. Akibatnya, ekosistem laut termasuk terumbu karang terus tertekan.
Masalah lain yang tak kalah serius adalah sampah laut. Berdasarkan riset LIPI tahun 2022, sekitar 1,7 ton sampah plastik teridentifikasi setiap bulannya di sekitar perairan Raja Ampat, sebagian besar terbawa arus dari kota-kota besar seperti Sorong dan sekitarnya. Sampah ini mengancam biota laut, termasuk penyu dan burung laut yang sering tertukar antara plastik dan makanan.
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya hilang. Sejumlah komunitas lokal dan LSM telah bekerja keras menjalankan konservasi berbasis masyarakat. Salah satu contoh adalah proyek restorasi karang di Meoswara yang berhasil menumbuhkan kembali karang seluas lebih dari 500 meter persegi hanya dalam dua tahun. Namun upaya ini butuh dukungan serius dari negara bukan hanya lewat promosi wisata, tapi juga lewat kebijakan tegas terhadap industri ekstraktif dan tata kelola pariwisata yang berkelanjutan.
Save Raja Ampat bukan sekadar slogan atau kampanye musiman. Ia adalah peringatan untuk menyelamatkan warisan laut dunia dari kerusakan permanen. Jika tak ada langkah nyata dari masyarakat serta tindak tanduk dari pemerintah, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya bisa mengenal Raja Ampat dari buku sejarah atau unggahan lama media sosial.
Tr: Novita Sari






















