Rumah yang dulu penuh cahaya,
Kini hampa, tak ada lagi tawa.
Dinding-dinding bisu menyimpan luka,
Semua terjadi di luar bayanganku.
Ayah dan Ibu masih berjalan beriringan,
Namun langkah mereka menapak di aspal yang berbeda.
Aku gelisah,
Kalau saja jalan itu terbelah di depan sana.
Malam itu, dinding kamar pun menangis,
Seisi ruang turut sendu memandangku.
Kurasakan lelah yang terpaksa kutepis,
Berharap yang mati bisa kembali, memperbaiki.
Sejenak kutatap langit-langit kamarku,
Warna putih dengan sejuta makna.
Sayapku patah, ingin terbang pun susah.
Apa aku harus menyerah saja?
Jika benar terpisah di depan nanti,
Pada siapa aku harus ikut?
Itu pun jika ada yang ingin membawaku.
Apa aku harus memeluk ragaku sendiri?
Tuhan, aku tak sekuat itu.
Pundakku rapuh, langkahku pendek.
Mampukah aku terus berlari,
Dikejar takut dan cemas yang kerap membuatku jatuh, terduduk, sesak?
Tuhan, tata kembali rumah
Yang kehilangan maknanya ini.
Dan pulihkan jiwa
Dari raga kecil yang terluka ini.
Tr: Gustriani Ningsih






















