• Latest
  • Trending
  • All
  • Kabar Kampus
  • Feature
  • Opini
  • Sosok
Suara – Suara yang Tidak didengar

Suara – Suara yang Tidak didengar

18 February 2021
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026

4 February 2026
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

Survei: Pandangan Mahasiswa UMSU terhadap Peluang dan Tantangan Kerja di Era Digital

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

UMSU Mart Berhenti Beroperasi

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

4 February 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

FKIP UMSU Menyokong Pembelajaran Visual melalui Ruang Podcast

29 January 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

Kecemasan Mahasiswa di Tengah Isu Perang Dunia Ketiga

29 January 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

29 January 2026
UKM LPM Teropong Pelajari Strategi Bisnis Media dalam Kunjungan ke Harian Analisa

UKM LPM Teropong Pelajari Strategi Bisnis Media dalam Kunjungan ke Harian Analisa

26 January 2026
Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Akademisi UMSU Kritik Resolusi PBB soal Timur Tengah

25 January 2026
Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

25 January 2026
Pengamat Politik UMSU Soroti Putusan MK: Wartawan Tidak Bisa Langsung Dipidana

UMSU Kukuhkan Guru Besar Energi Terbarukan

24 January 2026
  • Tentang
  • Advertisement
  • Contact
Monday, 9 February 2026
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
BERLANGGANAN
UKM-LPM Teropong UMSU
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
No Result
View All Result
UKM-LPM Teropong UMSU
No Result
View All Result
Home Opini

Suara – Suara yang Tidak didengar

by REDAKSI TEROPONG
18 February 2021
in Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Suara – Suara yang Tidak didengar
0
SHARES
102
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Teropongonline, Medan-“Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam,”

Beginilah sebagian bunyi dari puisi ciptaan Widji Thukul yang berjudul “Peringatan” pada tahun 1986. Bukan sekedar omong kosong,apa yang dituliskan Widji Thukul dalam puisinya tersebut tampaknya memang benar adanya saat ini. Bisa bersama kita lihat dari problematika mengenai pengesahan Rencana Undang – Undang (RUU) Cipta Kerja menjadi Undang-Undang oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) pada 5 Oktober 2020 lalu. Dimana setelah itu berbagai elemen rakyat menunjukan rasa kekecewaan mereka terhadap pengesahan Undang – Undang tersebut.

RelatedPosts

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Kecemasan Mahasiswa di Tengah Isu Perang Dunia Ketiga

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Sebagaimana kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang memakai sistem pemerintahan demokrasi dalam menjalankan pemerintahannya. Salah satu nilai yang terkandung dalam sistem pemerintahan demokrasi yakni semua warga negaranya memiliki hak yang sama dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah kehidupan rakyat dan negara. Hal ini tentu saja membenarkan istilah “Dari Rakyat, Untuk Rakyat, Oleh Rakyat” yang sering sekali digaungkan di negara-negara penganut sistem pemerintahan demokrasi. Bersamaan dengan itu, pertanyaan yang juga sering dipertanyakan adalah “Apakah kita sudah benar-benar menjalani sistem demokrasi dengan baik?,”

Pertanyaan tersebut dan sejenisnya mungkin sulit untuk dijawab oleh orang manapun, akan tetapi keadaan saat ini mungkin dapat menunjukkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Sebagai contoh, tindakan yang dilakukan oleh Ketua DPR-RI, Puan Maharani yang mematikan mikrofon dari Irwan Fecho, yakni legislator dari Partai Demokrat pada saat menyampaikan aspirasi di rapat paripurna pada tahun Oktober 2020 lalu.

Sebagaimana kita ketahui bersama, Kejadian Ketua DPR-RI mematikan mikrofon itu terjadi saat rapat paripurna DPR pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja menjadi undang-undang, Senin 5 Oktober 2020. Awalnya, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Irwan Fecho menyampaikan pendapatnya mengenai RUU Omnibus Law Cipta Kerja. Kemudian, Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi Partai Golkar yang saat itu sebagai pimpinan sidang Aziz Syamsuddin terlihat berdiskusi sebentar dengan Puan Maharani yang duduk di sebelahnya lalu seketika suara mikrofon dari Irwan Fecho mendadak mati. Alhasil, video kejadian tersebut tersebar luas di media sosial.

Penulis berpendapat hal ini merusak nilai-nilai demokrasi, menurut saya apabila DPR-RI benar-benar sebagai wakil rakyat yang aspiratif, maka DPR-RI harus meyakini bahwasanya setiap legislator yang berada di rapat paripurna tersebut memiliki pandangan yang berbeda-beda yang harus diterima oleh DPR-RI.

Suara lain yang juga tidak didengar adalah ketika pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny Gerard Plate pada saat di acara Mata Najwa. Dalam talk show tersebut, Johnny terlibat adu argumen dengan narasumber lainnya yakni Koordinator Pusat Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Remy Hastian. Dalam diskusi tersebut , Jhonny menegaskan, pemerintah dengan akuntabilitas tinggi menyampaikan informasi kepada masyarakat mana yang hoaks dan mana tidak.

“Memang itu hoaks. Kalau pemerintah sudah bilang hoaks, ya dia hoaks. Kenapa membantah lagi?” ujar Johnny.

Kejadian seperti ini menurut saya kembali dapat mengurangi nilai nilai demokrasi berpendapat, dengan seolah olah memaksa rakyat untuk terus menerima dan mensetujui apa yang telah dibuat oleh pemerintah. Seharusnya pihak pihak yang berada didalam ruang lingkup pemerintahan bisa juga menerima apa yang diaspirasi oleh rakyatnya tanpa harus mengeluarkan kalimat bernuansa keotoriteran dan bersifat memaksa rakyat untuk mempercayai penuh apa yang disampaikan oleh pemerintah.

Lalu, Kegiatan yang sedang hangat-hangatnya pada Oktober 2020 lalu, yakni pelaksanaan aksi oleh berbagai elemen rakyat yang hampir diseluruh penjuru nusantara, yakni aksi penolakan UU Omnibuslaw Cipta Kerja yang dianggap merugikan dan menyengsarakan rakyat.

Meski didemo “habis-habisan” oleh rakyat, Pemerintah memastikan tidak ada opsi menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) untuk membatalkan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja. Hal tersebut dikatakan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Donny Gahral Adian. Meski tak ada opsi Perppu, Donny mempersilakan pihak-pihak yang menolak UU Cipta Kerja untuk mengajukan uji materil atau judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Tidak ada pilihan Perppu. Pemerintah menghargai masukan dari serikat buruh. Menghargai bahwa demo-demo yang dilangsungkan beberapa hari ini berjalan dengan damai, dan berdasarkan protokol kesehatan,” kata Donny saat dihubungi, Kamis (8/10/2020), dikutip dari Kompas.com.

Dengan beberapa persoalan diatas mungkin sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai sistem demokrasi yang dipakai oleh negeri yang kita cintai ini. Penulis mengajak kepada kita semua agar selalu menyampaikan sebuah kebenaran walau terkadang pahit yang diterima atau bahkan hasil yang diterima tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan.

Tr : Mhd. Iqbal
Sumber ilustrasi : buletin wene

Tags: #lpmteropong#opini#persmaumsu#ruu#suaratidakdidengar#teropongonline
Previous Post

Idola

Next Post

Mengenal Eccedentesiast

Related Posts

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

by REDAKSI TEROPONG
4 February 2026
0

Teropongdaily, Medan-Di benak banyak orang, seni identik dengan keindahan, kreativitas, dan kebebasan berekspresi. Lukisan yang digantung di galeri, patung dipajang...

UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

Kecemasan Mahasiswa di Tengah Isu Perang Dunia Ketiga

by REDAKSI TEROPONG
29 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Belakangan ini, isu tentang Perang Dunia Ketiga semakin sering terdengar. Awalnya, hal tersebut terasa seperti cerita yang jauh dan...

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

by REDAKSI TEROPONG
25 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Mahasiswa sejak dulu dikenal sebagai agen perubahan dan penjaga nurani publik. Dalam dinamika sosial dan politik bangsa, mahasiswa memiliki...

Pengamat Politik UMSU Nilai Tekanan AS terhadap Iran Kian Agresif

Penahanan Peserta Demonstrasi Dinilai Mengancam Kebebasan Demokrasi

by REDAKSI TEROPONG
18 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Penahanan sejumlah peserta dalam aksi demonstrasi besar kembali menjadi perhatian publik. Tindakan aparat yang mengamankan dan menetapkan beberapa peserta...

Child Grooming: Kejahatan Sunyi yang Tumbuh dari Kelengahan Sosial

Child Grooming: Kejahatan Sunyi yang Tumbuh dari Kelengahan Sosial

by REDAKSI TEROPONG
12 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Child grooming kerap dipahami secara keliru sebagai interaksi biasa yang kebetulan berujung pada kekerasan. Padahal, grooming bukanlah peristiwa spontan,...

Rindu dalam Diam

KUHP Baru: Antara Pembaruan Hukum dan Tantangan Kebebasan Sipil

by REDAKSI TEROPONG
9 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Sejak Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru resmi diberlakukan pada awal 2026, Indonesia memasuki fase baru dalam sistem hukum...

Next Post
Mengenal Eccedentesiast

Mengenal Eccedentesiast

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

KPU Sosialisasi pembuatan Laporan Dana Kampanye

Mekanisme-Mekanisme Calon Komisioner KPU

7 years ago

Hari Kedua Jumantara 2020, Teknokra UNILA Adakan Pelatihan Kepenulisan Feature Dan Opini

5 years ago

Popular News

    Connect with us

    Berlangganan melalui Email

    Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Join 5 other subscribers

    Konten Terbaru

    • Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026 3 February 2026
    • Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang? 2 February 2026
    • Survei: Pandangan Mahasiswa UMSU terhadap Peluang dan Tantangan Kerja di Era Digital 31 January 2026

    Tentang Kami

    Pers Mahasiswa TEROPONG merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). UKM-LPM TEROPONG UMSU berdiri pada 12 Juli 2001 dan sampai saat ini merupakan satu-satunya UKM yang mengelola bidang penerbitan dan pers di tingkat UMSU.

    • Tentang
    • Advertisement
    • Contact

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    No Result
    View All Result
    • Artikel
    • Foto Jurnalistik
    • Kabar SUMUT
    • Kabar Kampus
    • Kabar Medan
    • Majalah
    • Newsletter
    • Sastra
    • Nasional
    • Internasional
    • Lainnya
      • Almamater
      • Ekonomi
      • Feature
      • Infografik
      • Lifestyle
      • Opini
      • Politik
      • Ragam
      • Sipongpong
      • Sobatpongpong
      • Sosok
      • Terkini

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In