Teropongdaily, Medan-Azan dikumandangkan tidak hanya untuk memanggil umat Islam melaksanakan ibadah salat lima waktu. Azan juga sering dikumandangkan ketika bayi baru dilahirkan, ketika apabila terjadi bencana, hingga ketika seseorang meninggal dunia.
Lalu siapakah orang yang pertama kali mengumandangkan Azan di dunia?
Ia adalah Bilal bin Rabah.
Nama lengkapnya Bilal bin Rabah Al-Habasyi. Ia berasal dari negeri Habasyah, sekarang Ethiopia. Ia biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-Rasul. Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijriah. Ia berpostur tinggi, kurus, warna kulitnya cokelat, pelipisnya tipis, dan rambutnya lebat.
Bilal merupakan budak milik Umayah bin Khalaf dari Bani Jumah, Makkah. Saat menjadi budak, Bilal kerap mendengar cerita tentang Nabi Muhammad SAW yang banyak dibicarakan penduduk Makkah karena mulai menyiarkan agama Islam.
Lalu, ia menemui Rasulullah SAW dan mengikrarkan diri masuk Islam. Ia merupakan salah satu kalangan sahabat Rasulullah yang berasal dari non-Arab.
Kabar keislaman Bilal tersebar ke seluruh negeri dan sampai ke telinga tuannya, yaitu Umayah. Bilal lalu siksa dengan besi dan di atas bara api agar mau keluar dari Islam atau Murtad. Kaum Kafir Quraisy juga ikut menyiksa Bilal.
Siksaan untuk Bilal bin Rabah saat itu sangat kejam. Dia bahkan diikat dan diarak mengelilingi jalanan Mekah. Siksaan hanya akan dihentikan jika Bilal keluar dari agama Islam (murtad) dengan menyebut nama Lata dan Uzza, berhala saat itu.
Namun, ia selalu mengucapkan, “Ahad-Ahad.” Ia menolak mengucapkan kata kufur (mengingkari Allah).
Kabar Bilal bin Rabah yang disiksa sampai ke Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian, Abu Bakar pun memerdekakan Bilal. Kemerdekaan Bilal yang lepas dari budak disambut bahagia kaum Muslimin.
Setelah merdeka, Bilal mengabdikan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Ke mana pun Rasulullah SAW pergi, Bilal senantiasa berada di samping Rasulullah SAW. Karena itu pula, para sahabat Rasulullah SAW sangat menghormati dan memuliakan Bilal, sebagaimana mereka memuliakan dan menghormati Rasulullah SAW.
Saat Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, Bilal pun turut serta bersama kaum Muslimin lainnya. Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah SAW mensyariatkan azan. Rasulullah SAW kemudian menunjuk Bilal untuk mengumandangkan azan karena ia memiliki suara yang merdu. Lalu, Bilal mengumandangkan azan sebagai pertanda dilaksanakannya shalat lima waktu. Sejak saat itu, Bilal mendapat julukan sebagai Muadzdzin ar-Rasul dan ia menjadi muazin pertama dalam sejarah Islam.
Tak lama kemudian, ketika menaklukkan Kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah SAW ditemani oleh tiga orang sahabatnya, yaitu Utsman bin Thalhah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah, saat waktu salat Zuhur tiba, Rasulullah SAW memanggil Bilal agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Maka, Azan yang dikumandangkan Bilal merupakan azan pertama di Makkah.
Namun, saat Rasul SAW wafat dan ketika azan akan dikumandangkan, Bilal pun tidak sanggup melaksanakan kewajibannya. Saat itu, jasad Rasulullah SAW masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan.
Ketika Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah),” Ia menangis tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Bilal merasakan betapa sedihnya ditinggalkan oleh manusia yang paling dicintainya. Tak hanya kaum Muslim, Allah pun mencintai Rasulullah SAW.
Sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi,” ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum Muslimin yang mendengarnya, juga larut dalam tangisan pilu.
Kemudian, Bilal mendatangi Abu Bakar as-Sidiq, yang menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat Islam, agar dia diperkenankan untuk tidak mengumandangkan azan lagi. Ia seakan tidak sanggup melakukannya. Permohonan itu pun dikabulkan Abu Bakar. Sejak saat itu, Bilal tak pernah lagi menjadi muazin bagi seseorang.
Tapi suatu saat Bilal pernah melakukannya ketika Khalifah Umar mengunjunginya di Damaskus. Namun, itu pun hanya sampai kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuluullaahi.” Ia lagi-lagi menangis mengingat Rasulullah SAW. Bahkan, Umar pun turut menangis. Azan yang dikumandangkan Bilal mengingatkan Umar ketika bersama-sama dengan Rasulullah SAW, orang yang paling dicintainya.
Namun, kemuliaan Bilal tak hanya karena Azannya, jejak langkah Bilal pernah didengar Rasulullah SAW di dalam surga. Sebuah penghargaan yang sangat tinggi bagi setiap orang yang beriman.
Jadi, setiap selesai melaksanakan wudhu, Bilal senantiasa melakukan shalat dua rakaat, yakni shalat sunah wudhu. Perbuatan itu senantiasa dilakukannya dalam setiap kesempatan. Selain itu, ia juga termasuk orang yang senantiasa memelihara (dawam) wudhu, yakni setiap batal, dia akan langsung berwudhu.
Selain sebagai muazin, Bilal juga pernah menjabat sebagai bendahara Rasulullah di Baitul Mal.
Bilal sang muazin Rasulullah SAW meninggal dunia tepatnya tahun ke-20 H, dimakamkan di Damaskus. Semoga Allah memberikan tempat yang mulia di sisi-Nya.
Tr : Anggi Syahfitri





















