Utang luar negeri (ULN) masih menjadi instrumen pembiayaan penting bagi Indonesia, namun pemanfaatannya harus difokuskan pada sektor produktif seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan industri domestik guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Dosen Ekonomi Bisnis Internasional, Ibu Eri Yanti Nasution, menilai penggunaan utang luar negeri harus dilakukan secara hati-hati serta memiliki tujuan yang jelas agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
“Penggunaan utang luar negeri harus memiliki tujuan yang jelas dan benar-benar diarahkan pada pembangunan yang produktif agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” ujarnya, Rabu (20/05/2026).
Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan ULN pada sektor pendidikan, kesehatan, konstruksi, dan transportasi merupakan langkah yang tepat karena dapat meningkatkan kualitas SDM serta memperlancar distribusi barang dan jasa di berbagai daerah.
“Investasi pada sektor pendidikan dan kesehatan sangat penting karena akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sehingga mampu bersaing di tingkat global,” katanya.
Ia menilai pembangunan infrastruktur melalui pembiayaan luar negeri dinilai mampu meningkatkan minat investor dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional apabila dilakukan secara efektif, terarah, dan transparan.
“Infrastruktur yang baik akan memperlancar distribusi barang dan jasa, meningkatkan investasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara lebih merata,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa utang luar negeri merupakan instrumen pembiayaan yang wajar bagi negara berkembang. Namun, penggunaannya harus mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan beban utang yang ditanggung negara.
“Pemerintah harus memastikan utang luar negeri digunakan secara tepat sasaran dan transparan agar mampu menciptakan ekonomi Indonesia yang lebih mandiri, stabil, dan kompetitif di tingkat global,” tutupnya.
Tr: Fia




















