Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Dra. Lailan Safina Hasibuan, mendorong pemerintah meningkatkan ekspor dan penggunaan alternatif mata uang internasional di tengah penguatan dollar Amerika Serikat
Menurutnya, pemerintah perlu mendorong peningkatan ekspor agar Indonesia memiliki cadangan dollar yang lebih besar sekaligus mulai mencari alternatif transaksi internasional selain menggunakan dollar Amerika Serikat.
“Kita harus mendorong ekspor sebanyak-banyaknya supaya punya banyak dollar, dan mulai mencari alternatif mata uang lain agar tidak terlalu tergantung pada dollar,” ujarnya, Selasa (19/05/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan nilai dollar turut memengaruhi biaya transportasi karena Indonesia masih bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM), sehingga distribusi barang dari desa ke kota menjadi lebih mahal.
“Karena BBM kita masih impor, tentu berkaitan dengan kenaikan biaya transportasi. Barang-barang yang dikonsumsi masyarakat desa juga ikut mengalami kenaikan harga,” jelasnya.
Selain itu, menilai UMKM desa juga tetap rentan terhadap fluktuasi dollar, terutama dari sisi biaya distribusi dan bahan produksi seperti minyak goreng yang memengaruhi biaya usaha.
“Kalau UMKM memakai bahan baku dari desa sendiri mungkin masih aman, tetapi biaya distribusi dan harga minyak tetap berpengaruh terhadap biaya produksi,” tuturnya.
Ia mengatakan kenaikan dollar juga memiliki sisi positif bagi sektor ekspor karena produk dalam negeri menjadi lebih murah di pasar internasional sehingga berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia.
“Bagi eksportir, kenaikan dollar bisa menjadi keuntungan karena barang produksi dalam negeri menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri,” katanya.
Ia juga menyoroti tantangan pemerintah pusat dalam menjaga stabilitas ekonomi akibat perubahan nilai tukar yang memengaruhi asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta pembayaran utang luar negeri.
“Ketika asumsi kurs dalam APBN berbeda jauh dengan kondisi sekarang, tentu penghitungan anggaran pemerintah menjadi terganggu,” pungkasnya.
Tr: Dwy



















