• Latest
  • Trending
  • All
  • Kabar Kampus
  • Feature
  • Opini
  • Sosok
Redupnya Suara Mahasiswa untuk Rakyat

Redupnya Suara Mahasiswa untuk Rakyat

19 November 2018
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026

4 February 2026
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

Survei: Pandangan Mahasiswa UMSU terhadap Peluang dan Tantangan Kerja di Era Digital

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

UMSU Mart Berhenti Beroperasi

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

4 February 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

FKIP UMSU Menyokong Pembelajaran Visual melalui Ruang Podcast

29 January 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

Kecemasan Mahasiswa di Tengah Isu Perang Dunia Ketiga

29 January 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

29 January 2026
UKM LPM Teropong Pelajari Strategi Bisnis Media dalam Kunjungan ke Harian Analisa

UKM LPM Teropong Pelajari Strategi Bisnis Media dalam Kunjungan ke Harian Analisa

26 January 2026
Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Akademisi UMSU Kritik Resolusi PBB soal Timur Tengah

25 January 2026
Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

25 January 2026
Pengamat Politik UMSU Soroti Putusan MK: Wartawan Tidak Bisa Langsung Dipidana

UMSU Kukuhkan Guru Besar Energi Terbarukan

24 January 2026
  • Tentang
  • Advertisement
  • Contact
Monday, 9 February 2026
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
BERLANGGANAN
UKM-LPM Teropong UMSU
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
No Result
View All Result
UKM-LPM Teropong UMSU
No Result
View All Result
Home Opini

Redupnya Suara Mahasiswa untuk Rakyat

by REDAKSI TEROPONG
19 November 2018
in Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Redupnya Suara Mahasiswa untuk Rakyat
0
SHARES
18
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Pramoedya Ananta Toer bilang, “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”.

“Bubarlah kelen, buat macet,” bentak tukang becak pada massa aksi.

RelatedPosts

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Kecemasan Mahasiswa di Tengah Isu Perang Dunia Ketiga

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

“Kami menyuarakan kalian Bapak tukang becak,” balas seorang mahasiswa.

Kutipan tersebut menunjukkan kondisi di mana ternyata rakyat yang diklaim mahasiswa sebagai perjuangannya tidak merasa terwakili. Apa yang sebenarnya terjadi dalam pada pergerakan mahasiswa sebagai penyambung lidah masyarakat.

Mahasiswa seyogyanya harus menjadi penyambung lidah rakyat. Dalam buku Gerakan Mahasiswa: Pilar Ke-5 Demokrasi, Hariman Siregar bahkan menyebutkan hal tersebut sebagai “kutukan”. Kaum muda terutama mahasiswa menjadi tumpuan sekaligus harapan bagi rakyat dalam memperbaiki tata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di negara-negara terjajah, pemuda dan mahasiswa hadir lebih awal untuk menolak ketidakadilan. Penjajahan yang berkepanjangan kerap menimbulkan rasa apatis dan ketakutan mengambil resiko oleh rakyat.

Di Indonesia sendiri sejarah membuktikan mahasiswa punya andil yang besar. Mulai dari gerakan perjuangan kemerdekaan yang diawali para mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau dikenal dengan sekolah untuk pendidikan dokter pribumi—sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tokoh nasional seperti Sorkarno dan Muhammad Hatta juga memulai perjuangannya sejak berstatus mahasiswa.

Tak bisa dipungkiri, institusi pendidikan punya peran penting dalam menyumbang penyampai suara-suara rakyat. Paulo Fiere dalam buku Sekolah Kapitalisme yang Licik menyinggung mengenai institusi pendidikan menyumbang dua jenis kaum intelektual: intelektual organik dan intelektual akademik.

Kaum intelektual organik yang dimaksud Paul yang punya peran penting dalam menyampaikan suara rakyat. Sebab, mereka tidak sekadar belajar teoritis seperti intelektual akademik namum mereka punya kedekatan langsung dengan masyarakat dan mengetahui penderitaan rakyat.

Sayangnya, insting mahasiswa dalam meyampaikan suara masyarakat kian tergerus. Dan salah satu penyebabnya tidak terlepas dari sistem pendidikan itu sendiri saat ini. Mahasiswa dituntut untuk tamat dalam beberapa tahun saja—saat ini maksimal 7 tahun. Ini menyebabkan mahasiswa tidak lagi bergairah untuk mengikuti organisasi. Padahal, dalam organisasi lah, mahasiswa diberikan pemahaman dan turun langsung untuk mencari akar kemelaratan masyarakat.

Orientasi mahasiswa saat ini berpatok pada kuliah, indek prestasi kumulatif yang tinggi, agar cepat wisuda. Walhasil, suara-suara rakyat pun terabaikan oleh pendidikan mereka. Mahasiswa memang manyadari perannya di masyarakat sesuai dengan tridarma perguruan Tinggi yaitu pengabdian masyarakat. Namun, secara tegas saya katakan pengabdian masyarakat dari mahasiswa sekadar formalitas untuk memenuhi nilai. Ya, memang pengabdian masyarakat bukan wadah untuk mendengarkan suara mereka.

Tidak hanya itu. demonstrasi kerap dijadikan wadah mahasiswa dalam meyampaikan aspirasinya kepada penguasa. Inilah yang akhirnya menjadi pagar. Mahasiswa saat ini sudah tidak semilitan terdahulu kita (mahasiswa—red). Kita tidak lagi kebal pada ancaman ‘diteror’, ‘diracun’, ‘diracun’, atau sekadar di-drop out karena menyampaikan kebenaran. Dan kita akan tetap terkurung dalam dunia perguruan tinggi jika tak berani besuara kawan.

Isu yang dibawakan oleh mahasiswa juga tak jarang yang berpotensi menjadi tunggangan partai politik. Bukannya menyampaikan aspirasi masyarakt malah demonstrasi mahasiswa menguntungkan oposisi. Sudah cukuplah berdemonstrasi karena ada partai politik di belakangmu. Sudah cukuplah berkoar ikut-ikutan karena uang Rp50.000 ataupun nasi bungkus.

Masih banyak suara rakyat yang harus kita analisis dan sampaikan pada penguasa. Perampasan lahan misalnya, pelanggaran hak asasi manusia yang tidak kunjung usai penangananya, ataupun masyarakat yang dibodoh-bodohi dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Sebagai penyambung lidah masyarakat harusnya kita mahasiswa lebih kritis. Analisis mendalam harus dilakukan untuk mendapat solusi atas masalah rakyat. Ingat! Itu bukan hanya tugas legistlatif dan eksekutif, mahasiswa juga punya peran penting.

Jangan turun ke jalan jika kalian tidak punya analisis tentang klaim membawa suara rakyat! Contoh pendahulu kita. Salah satunya, Tan Malaka. Ia memberikan analisis mendalam mengenai permasalahan negaranya. Lalu memberikan rancanagan program proletar di Indonesia. Meski hingga ajal menjemput, programnya tidak diterapkan. Setidaknya dia punya analisi mendalam. Ketimbang saat ini, mahasiswa turun ke jalan, minta presiden di turunkan. Tapi, ketika ditanya apakah ada solusi, jawabannya, “Kita pikirkan itu nantu”.

Ya, kita harus sadar wan-kawan, sebagai mahasiswa, harusnya kita lebih dekat pada rakyat, dengarkan suara mereka. Bukan tugas kita untuk mengabulkan suara-suara mereka namun tugas kita untuk menyampaikannya pada penguasa bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Kita tidak bisa sekadar mengharapka partai politik sebagai wadah aspirasi masyarakat.

Oleh: Adinda Zahra Noviyanti

Tags: #kebenaran#suaramahasiswa#suararakyat
Previous Post

Suara Mahasiswa Suara Rakyat

Next Post

SMARTPHONE MURAH DENGAN SPESIFIKASI TERBAIK

Related Posts

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

by REDAKSI TEROPONG
4 February 2026
0

Teropongdaily, Medan-Di benak banyak orang, seni identik dengan keindahan, kreativitas, dan kebebasan berekspresi. Lukisan yang digantung di galeri, patung dipajang...

UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

Kecemasan Mahasiswa di Tengah Isu Perang Dunia Ketiga

by REDAKSI TEROPONG
29 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Belakangan ini, isu tentang Perang Dunia Ketiga semakin sering terdengar. Awalnya, hal tersebut terasa seperti cerita yang jauh dan...

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

by REDAKSI TEROPONG
25 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Mahasiswa sejak dulu dikenal sebagai agen perubahan dan penjaga nurani publik. Dalam dinamika sosial dan politik bangsa, mahasiswa memiliki...

Pengamat Politik UMSU Nilai Tekanan AS terhadap Iran Kian Agresif

Penahanan Peserta Demonstrasi Dinilai Mengancam Kebebasan Demokrasi

by REDAKSI TEROPONG
18 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Penahanan sejumlah peserta dalam aksi demonstrasi besar kembali menjadi perhatian publik. Tindakan aparat yang mengamankan dan menetapkan beberapa peserta...

Child Grooming: Kejahatan Sunyi yang Tumbuh dari Kelengahan Sosial

Child Grooming: Kejahatan Sunyi yang Tumbuh dari Kelengahan Sosial

by REDAKSI TEROPONG
12 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Child grooming kerap dipahami secara keliru sebagai interaksi biasa yang kebetulan berujung pada kekerasan. Padahal, grooming bukanlah peristiwa spontan,...

Rindu dalam Diam

KUHP Baru: Antara Pembaruan Hukum dan Tantangan Kebebasan Sipil

by REDAKSI TEROPONG
9 January 2026
0

Teropongdaily, Medan-Sejak Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru resmi diberlakukan pada awal 2026, Indonesia memasuki fase baru dalam sistem hukum...

Next Post
SMARTPHONE MURAH DENGAN SPESIFIKASI TERBAIK

SMARTPHONE MURAH DENGAN SPESIFIKASI TERBAIK

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Dunia Televisi di Era Digital Bersama Kompas TV

6 years ago

Merenunglah

7 years ago

Popular News

    Connect with us

    Berlangganan melalui Email

    Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Join 5 other subscribers

    Konten Terbaru

    • Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026 3 February 2026
    • Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang? 2 February 2026
    • Survei: Pandangan Mahasiswa UMSU terhadap Peluang dan Tantangan Kerja di Era Digital 31 January 2026

    Tentang Kami

    Pers Mahasiswa TEROPONG merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). UKM-LPM TEROPONG UMSU berdiri pada 12 Juli 2001 dan sampai saat ini merupakan satu-satunya UKM yang mengelola bidang penerbitan dan pers di tingkat UMSU.

    • Tentang
    • Advertisement
    • Contact

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    No Result
    View All Result
    • Artikel
    • Foto Jurnalistik
    • Kabar SUMUT
    • Kabar Kampus
    • Kabar Medan
    • Majalah
    • Newsletter
    • Sastra
    • Nasional
    • Internasional
    • Lainnya
      • Almamater
      • Ekonomi
      • Feature
      • Infografik
      • Lifestyle
      • Opini
      • Politik
      • Ragam
      • Sipongpong
      • Sobatpongpong
      • Sosok
      • Terkini

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In