Etika jurnalistik menjadi tantangan terbesar yang dihadapi jurnalis muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Kemudahan mengakses kecerdasan buatan (AI) harus diimbangi dengan tanggung jawab menghasilkan karya jurnalistik yang akurat dan berintegritas, Senin (29/06/2026).
Hal tersebut disampaikan Wartawan ANTARA, sekaligus alumni UKM LPM Teropong UMSU, Sahbainy Nasution, saat berbagi pandangan mengenai tantangan profesi jurnalistik di era digital. Menurutnya, kemampuan teknis memang penting, tetapi etika tetap menjadi fondasi utama dalam menjalankan profesi jurnalis.
“Kemampuan menulis, verifikasi, dan etika semuanya penting. Namun, jika harus memilih yang paling utama, saya menilai etika jurnalistik menjadi tantangan terbesar saat ini,” ujarnya.
Sahbainy menjelaskan, perkembangan teknologi, termasuk hadirnya ChatGPT dan berbagai platform digital, memberikan kemudahan bagi jurnalis dalam mengakses informasi maupun menyusun materi pemberitaan. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu dan tidak dapat menggantikan tanggung jawab seorang jurnalis dalam mematuhi Kode Etik Jurnalistik.
Menurutnya, setiap informasi yang dipublikasikan tetap harus melalui proses verifikasi sehingga akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.
Selain menjunjung tinggi etika, Sahbainy menilai mahasiswa yang ingin berkarier di industri media perlu membekali diri dengan kemampuan menulis yang baik. Ia mengatakan, kemampuan tersebut menjadi modal utama bagi jurnalis, baik di media cetak, radio, televisi, maupun media digital.
“Mahasiswa harus mempersiapkan kemampuan menulis. Apa pun medianya, kemampuan menulis tetap menjadi modal utama,” katanya.
Ia juga mendorong mahasiswa untuk memahami Kode Etik Jurnalistik, memperbanyak membaca, serta menguasai bahasa asing sebagai bekal menghadapi persaingan di dunia media.
“Jangan pernah bosan belajar dan terus mengasah kemampuan. Jika memungkinkan, kuasai juga bahasa asing karena itu akan menjadi nilai tambah dalam dunia media,” tuturnya.
Kepada UKM LPM Teropong, Sahbainy berpesan agar terus menjaga konsistensi dalam memproduksi karya jurnalistik sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Menurutnya, konsistensi dalam menerbitkan karya akan membangun kepercayaan pembaca terhadap media kampus.
“Yang paling penting adalah konsisten. Terus tingkatkan kemampuan para jurnalisnya, terutama dalam menulis. Sajikan karya-karya yang tidak hanya informatif, tetapi juga memberikan wawasan kepada pembaca,” pungkasnya.




















