Museum sering dianggap sebagai tempat menyimpan benda-benda lama yang membosankan. Padahal, museum memiliki fungsi penting sebagai ruang penyimpan ingatan kolektif masyarakat. Peringatan Hari Museum Internasional setiap 18 Mei menjadi pengingat bahwa museum bukan hanya tempat wisata, tetapi juga ruang edukasi dan refleksi sosial.
Dikutip dari Radio Republik Indonesia (RRI), Hari Museum Internasional 2026 mengangkat tema “Museums Uniting a Divided World”. Tema ini menekankan pentingnya museum dalam memperkuat dialog sosial di tengah masyarakat yang semakin mudah terpecah oleh konflik dan arus informasi digital.
Momentum tersebut beriringan dengan pembangunan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur. Dikutip dari Antara News, Presiden Prabowo Subianto disebut akan meresmikan museum itu sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Marsinah sebagai aktivis buruh perempuan.
Marsinah dikenal sebagai buruh pabrik yang memperjuangkan hak pekerja pada era Orde Baru. Pada Mei 1993, ia ditemukan meninggal dunia setelah terlibat dalam aksi menuntut kenaikan upah buruh. Hingga kini, kasus kematiannya masih menjadi catatan penting dalam sejarah HAM di Indonesia.
Kehadiran Museum Marsinah menarik karena membawa narasi berbeda dari museum pada umumnya. Jika banyak museum identik dengan sejarah kerajaan atau tokoh besar negara, museum ini justru mengangkat perjuangan rakyat kecil yang jarang mendapat ruang besar dalam sejarah resmi.
Dilansir dari Medcom.id, Museum Marsinah nantinya akan menampilkan dokumen perjuangan, surat pribadi, hingga arsip penting terkait perjalanan hidup Marsinah. Kehadiran museum ini diharapkan dapat menjadi ruang edukasi tentang perjuangan buruh dan hak asasi manusia.
Namun, tantangan museum di Indonesia bukan hanya soal pembangunan gedung baru. Banyak museum masih dianggap kurang menarik bagi generasi muda karena minim pengalaman interaktif. Dikutip dari penelitian yang dipublikasikan melalui arXiv, pendekatan visual dan teknologi interaktif mampu meningkatkan keterlibatan pengunjung dalam memahami sejarah.
Karena itu, Museum Marsinah seharusnya tidak berhenti sebagai simbol semata. Museum perlu dikembangkan menjadi ruang belajar yang hidup dan komunikatif agar masyarakat tidak hanya melihat sejarah, tetapi juga memahami nilai perjuangan di dalamnya.
Tr: Rifky



















