Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia sebagai upaya memperluas pengalaman akademik dan wawasan global mahasiswa, Rabu (13/05/2026).
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam (FAI) semester VI UMSU, Annas Tasya Rasyid, Salah satu peserta KKN Internasional, mengungkapkan bahwa motivasinya mengikuti program ini didasari oleh keinginan untuk memperoleh pengalaman yang lebih luas dibandingkan KKN domestik.
“Motivasi saya mengikuti KKN Internasional karena ingin mendapatkan pengalaman yang lebih luas. Kami tidak hanya mengabdi kepada masyarakat, tetapi juga mengikuti pembelajaran di Open University Malaysia, mendapatkan konversi 20 SKS, sertifikat internasional, serta publikasi jurnal ilmiah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan fisik dan mental sebelum mengikuti program internasional yang berlangsung selama tiga bulan tersebut.
“Kesiapan khusus yang saya siapkan tentunya dari fisik dan mental saya, karena saya mengikuti KKN Internasional selama 3 bulan di negara Malaysia saya pastikan fisik saya kuat, saya usahakan untuk menjaga kesehatan fisik saya dengan mulai makan teratur, tidur cepat, dan olahraga ringan, untuk menjaga kondisi fisik tubuh saya tetap fit,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, program KKN Internasional FAI UMSU bekerja sama dengan Yayasan Al-Fikh Orchard Malaysia dan Open University Malaysia (OUM). Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa mempelajari sistem pendidikan anak usia dini dan pedagogi pendidikan awal kanak-kanak.
“Bekerja sama dengan yayasan ‘Al-Fikh Orchard Malaysia’ untuk belajar mengenai sistematika proses Pembelajaran dan pengenalan pendidikan awal kanak-kanak antar bangsa selama (90hari). Bekerja sama dengan Open university Malaysia (OUM) untuk belajar tentang ‘Taklimat Program Sijil Pendagogi Pendidikan Awal Kanak-Kanak,”tuturnya.
Ia mengakui bahwa terdapat tantangan yang dihadapi selama menjalankan program, khususnya dalam hal komunikasi.
“Tantangan budaya terbesar yang saya temui adalah kesulitan berkomunikasi dengan penduduk lokal, dikarenakan kesenjangan bahasa yang berbeda, Namun itu tidak terlalu menjadi soalan yang begitu besar karena orang Malaysia ini ramah jadi jika kita sulit berkomunikasi mereka akan tersenyum dan tertawa seolah olah mereka meng isyarat kan ini adalah hal yang wajar dan tidak menjadi masalah,” ungkapnya.
Tr: Nashwa

















