Pemerintah Provinsi Sumut resmi luncurkan Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang guna kurangi polusi dan ketergantungan kendaraan pribadi, Rabu (19/08/2026).
Direktur Angkutan Jalan, Muiz Thohir, menyebut kemacetan Medan mencapai 54,2% menurut data dari TomTom Traffic Index, menjadikan transportasi publik terintegrasi sebagai kebutuhan mendesak, akibat kepadatan lalu lintas.
“Pembangunan bukan sekadar membangun bangunan. Ini untuk meningkatkan kualitas hidup, memajukan ekonomi, dan mewujudkan masa depan yang lebih hijau,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Sumut, Bobby Nasution, menilai jumlah kendaraan pribadi yang terus bertambah harus diimbangi angkutan umum yang nyaman dan terjangkau.
“Semakin banyak kendaraan pribadi, semakin sulit pemerintah memberikan pelayanan. Karena itu, pemerintah harus menyiapkan transportasi umum,” ucapnya.
Bobby menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar peluncuran armada, melainkan perubahan sistem mobilitas masyarakat
“Ini bukan sekadar launching bus, tapi membangun sistem transportasi yang terhubung dan perubahan dalam melakukan perjalanan,” tegasnya.
Kemudian, Kepala Dinas Perhubungan Sumut, Yuda Pratiwi Setiawan, mengatakan bahwa pemerintah mengoperasikan dua unit untuk mengecek kondisi teknis, waktu tempuh, sekaligus mengenalkan layanan ke masyarakat pada uji coba saat ini. Terdiri atas 14 unit untuk Koridor 11 (Teladan–Terminal Lubukpakam), 13 unit untuk Koridor 12 (Simpang Barat–Binjai), dan tiga unit sebagai armada cadangan.
“Target operasi penuh pada tanggal 8 Desember 2026 dengan total 30 bus listrik,” katanya.
Selama uji coba, layanan dapat digunakan secara gratis. Nantinya tarif tetap Rp4.300 untuk umum dan Rp3.000 untuk pelajar,
penyandang disabilitas, serta lansia.
Tr : Aura




















