Penulis Ubai Dillah Al-Anshori mengangkat persoalan kehilangan dan pergeseran identitas kota-kota di Sumatera melalui 60 puisi dalam buku Sebuah Kota, Sebuah Umpama yang terbit pada 8 Juli 2026.
Ubai menjelaskan, proses riset buku tersebut dimulai pada akhir 2023 dan berlangsung selama kurang lebih dua tahun. Riset dilakukan untuk memahami karakteristik serta persoalan yang membentuk identitas kota-kota di Sumatera.
“Buku puisi Sebuah Kota, Sebuah Umpama ini risetnya dimulai pada akhir tahun 2023. Buku ini hadir untuk merepresentasikan Sumatera, berisi 60 puisi yang membahas berbagai kota yang ada di pulau ini,” ujarnya, Sabtu (10/10/2026).
Buku yang diterbitkan Elex Media Komputindo tersebut berangkat dari pengalaman Ubai mengunjungi sejumlah kota. Pengalaman itu memberinya bahan untuk mengamati perubahan yang terjadi di berbagai wilayah.
“Puisi-puisi dalam buku ini lahir dari berbagai hal yang tertinggal. Kota-kota yang saya datangi dan singgahi menjadi inspirasi yang sangat kuat,” katanya.
Dari pengamatan tersebut, Ubai melihat bahwa pergeseran identitas kota tidak hanya menyangkut ciri khas wilayah, tetapi juga pengetahuan dan peradaban yang membentuk jati diri masyarakatnya.
“Saat saya mempelajari latar belakang setiap kota, saya melihat mengapa identitas kota itu sedikit demi sedikit bergeser, bukan sekadar identitas secara umum, melainkan karakteristik, pengetahuan, dan peradaban yang menjadi jati dirinya,” ungkapnya.
Selain persoalan identitas, pemilihan kata umpama dalam judul buku juga menjadi bagian penting dari gagasan yang ingin disampaikan. Kata tersebut digunakan untuk menghubungkan pengalaman dan persoalan satu kota dengan kota-kota lainnya.
“Sebuah Kota, Sebuah Umpama bermakna: kota-kota kalian, kota-kota lain di Sumatera, yang mungkin merujuk pada hal yang sama: kehilangan, ketertinggalan identitas, hal-hal yang sebenarnya perlu dibicarakan, namun justru sering dilupakan di kota-kota tersebut,” tuturnya.
Tr. rifky





















