Teras Baca Agmarani menegaskan pentingnya penguatan literasi keuangan sejak dini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kecakapan masyarakat dalam mengelola keuangan, Sabtu (22/8/2026).
Ketua Teras Baca, Mahniar Sinaga, M.Pd., menegaskan literasi keuangan perlu diperkenalkan secara lebih luas agar pemahaman masyarakat tidak hanya berkaitan dengan angka, tetapi juga kemampuan mengelola keuangan. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Menulis Buku Jenjang B3 yang digelar bersama FKIP UMSU.
“Konsep literasi keuangan itu bukan hanya berada dalam matematika, ekonomi, atau akuntansi, tetapi dapat diterapkan di semua mata pelajaran,” ujar Mahniar.
Ia menilai literasi keuangan masih kurang mendapat perhatian, terutama pada siswa sekolah dasar yang umumnya mengenalnya melalui pembelajaran matematika. Sementara di tingkat SMP dan SMA, materi tersebut lebih banyak bersinggungan dengan ekonomi dan akuntansi. Kondisi anak-anak tersebut menjadi alasan Mahniar untuk terus mengangkat literasi keuangan dalam kegiatan pendidikan.
“Saya pernah menemukan anak SD yang sudah terjerat pinjaman online. Mereka meminjam KTP orang tuanya, kemudian memotretnya, bahkan melakukan top-up untuk permainan digital,” katanya.
Pelatihan Menulis Buku Jenjang B3 sendiri diselenggarakan Teras Baca Agmarani sebagai pegiat literasi melalui kolaborasi dengan FKIP UMSU. Kegiatan tersebut diikuti 75 peserta yang terdiri atas mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, calon guru, pegiat literasi, guru TK hingga SMK, kepala sekolah, dan dosen.
Mahniar menjelaskan kegiatan tersebut merupakan salah satu kegiatan yang didanai Kementerian.
“Kemudian, saya ingin menyampaikan bahwa kegiatan ini sepenuhnya didanai oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Bahasa,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Panitia, Aisyah Sinaga, S.Pd., mengatakan pelatihan tersebut bertujuan mendorong tumbuhnya budaya literasi sekaligus meningkatkan keterampilan menulis di kalangan pendidik, mahasiswa, calon guru, dan pegiat literasi.
“Harapannya, kegiatan ini tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi dapat melahirkan karya-karya yang bermanfaat dan menginspirasi banyak orang, terutama peserta didik di sekolah,” tutupnya.
Tr. rifky





















