Teropongdaily, Medan-Proyek penulisan ulang sejarah nasional yang dipimpin oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon melibatkan 113 sejarawan dengan target penyelesaian 11 jilid buku pada tahun 2027. Anggarannya mencapai Rp 9 miliar. Buku-buku ini direncanakan menjadi bahan ajar resmi di sekolah dan perguruan tinggi. Namun, dari 12 kasus pelanggaran HAM berat yang telah diakui Komnas HAM, hanya dua yang dimuat: Peristiwa 1965–1966 dan Penembakan Misterius (Petrus).
Padahal, luka kolektif bangsa ini jauh lebih luas dan mendalam. Kasus penculikan aktivis menjelang runtuhnya Orde Baru, pembantaian Talangsari, tragedi Trisakti, Semanggi I & II, hingga kekerasan di Wasior dan Wamena semuanya nyata, berdarah, dan belum pernah tuntas secara hukum. Sayangnya, negara memilih bungkam. Penulisan sejarah ini bukan sebuah refleksi, melainkan upaya penghapusan tanggung jawab. Bukan pengingat masa lalu, melainkan perintah untuk melupakan.
Buku-buku sejarah yang akan masuk ke ruang-ruang kelas dan dibaca oleh generasi baru itu menyajikan narasi yang dipoles. Luka disembunyikan, kekuasaan dibersihkan. Padahal keadilan belum ditegakkan. Para korban masih menunggu, keluarga masih bertanya, dan negara tetap diam. Ini adalah pengkhianatan terhadap upaya penyembuhan sejarah yang seharusnya jujur dan menyeluruh.
Aksi Kamisan yang digelar setiap hari Kamis sejak 2007 oleh keluarga korban pelanggaran HAM merupakan simbol perlawanan diam yang terus menyala. Namun bahkan suara yang konsisten itu tidak dianggap layak masuk dalam narasi sejarah resmi. Ini bukan sekadar penghapusan cerita, melainkan bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.
Dalam hukum tata negara, sejarah bukanlah dongeng masa lalu. Ia merupakan fondasi legitimasi negara yang melandasi lahirnya konstitusi, bentuk pemerintahan, hingga keberadaan institusi negara. Maka, setiap pembatasan atau penghapusan narasi adalah keputusan politis yang sarat dengan kepentingan kekuasaan.
Sejarah bukan alat pencitraan. Ia milik rakyat, milik korban, dan milik masa depan. Sejarah yang jujur bukan yang menyenangkan, melainkan yang menyakitkan sekaligus menyembuhkan. Jika negara takut pada sejarahnya sendiri, maka sesungguhnya ia sedang menggali lubang kejatuhannya sendiri. Kita tidak butuh sejarah yang indah, kita butuh sejarah yang utuh.
Tr : Intan Nur’aini
Sumber Foto: Tempo.co





















