Teropongdaily, Medan-Overthinking telah menjadi fenomena yang kerap dialami oleh anak muda di era modern. Tekanan dari media sosial, tuntutan akademik, serta ekspektasi lingkungan membuat mereka sulit berhenti memikirkan banyak hal. Pikiran yang berulang ini sering berfokus pada kesalahan masa lalu atau kekhawatiran terhadap masa depan. Akibatnya, banyak anak muda terjebak dalam lingkaran kecemasan yang tak berkesudahan.
Fenomena ini tampak jelas dari banyaknya keluhan anak muda yang mengalami sulit tidur, kesulitan berkonsentrasi, hingga menurunnya semangat belajar. Menurut penelitian, overthinking dapat memicu gangguan kesehatan mental seperti stres, kecemasan, bahkan depresi. Data dari antaranews.com menunjukkan bahwa sekitar 50 persen masyarakat Indonesia pernah mengalami overthinking, terutama di kelompok usia muda. Fakta ini menunjukkan betapa seriusnya fenomena tersebut di tengah masyarakat kita.
Sebagian orang menganggap overthinking sebagai bentuk kepedulian yang tinggi terhadap hasil atau masa depan. Anak muda merasa bahwa dengan berpikir berlebihan, mereka akan lebih siap menghadapi risiko. Refleksi diri pun bisa muncul dari kebiasaan berpikir panjang, yang terkadang memunculkan ide atau solusi baru. Dalam batas tertentu, overthinking memang dapat melatih kewaspadaan dan kemampuan perencanaan.
Namun, dampak negatifnya sering kali jauh lebih besar daripada manfaatnya. Overthinking membuat pikiran bekerja tanpa henti sehingga energi mental terkuras habis. Anak muda menjadi sulit menikmati momen saat ini karena pikirannya terus melayang pada hal-hal yang belum tentu terjadi. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
Media sosial menjadi salah satu pemicu utama munculnya overthinking. Perbandingan dengan pencapaian orang lain membuat banyak anak muda merasa tertinggal dan kurang berharga. Penelitian dari Jurnal Medika menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berhubungan dengan meningkatnya kecenderungan overthinking pada mahasiswa.
Selain itu, kurangnya keterampilan dalam mengelola stres membuat overthinking sulit dikendalikan. Banyak anak muda belum mengetahui cara menghentikan arus pikiran yang terus berulang. Mereka cenderung memendam perasaan dan membiarkan kecemasan menumpuk, yang pada akhirnya memperbesar risiko gangguan kesehatan mental di kemudian hari.
Meski demikian, fenomena ini bukan berarti tidak dapat diatasi. Latihan mindfulness, teknik pernapasan, dan olahraga ringan dapat membantu meredakan pikiran berlebih. Dukungan keluarga dan teman juga berperan penting agar anak muda tidak merasa sendirian. Edukasi tentang kesehatan mental perlu digencarkan agar mereka memiliki bekal menghadapi tekanan hidup.
Sebagai penutup, overthinking merupakan tantangan nyata yang dihadapi generasi muda masa kini. Meski sulit dihindari, fenomena ini dapat dikelola dengan pendekatan yang tepat. Pemerintah, sekolah, dan keluarga perlu bekerja sama dalam menyediakan ruang aman serta layanan konseling yang mudah dijangkau. Dengan demikian, anak muda dapat tumbuh lebih sehat, percaya diri, dan siap menghadapi masa depan tanpa terbebani pikiran berlebih.
Tr: Athira Sinaga





















