Teropongdaily, Medan-Di tengah kesibukan akademik dan tekanan tugas yang terus berdatangan, banyak mahasiswa terjebak dalam anggapan bahwa hadir di kelas, mengerjakan tugas, dan lulus tepat waktu sudah cukup. Padahal, makna sejati menjadi mahasiswa jauh lebih dalam daripada sekadar menyelesaikan kredit semester.
Mahasiswa adalah kelompok pemuda intelektual yang seharusnya menjadi penggerak perubahan sosial. Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan besar di negeri ini kerap dimulai dari aksi mahasiswa, mulai dari gerakan Reformasi 1998 hingga advokasi berbagai isu sosial saat ini. Mahasiswa memiliki peran sentral sebagai suara rakyat dan pengawal keadilan sosial.
Namun, kenyataannya banyak mahasiswa kini terjebak dalam zona nyaman. Minat terhadap organisasi kampus menurun, diskusi kritis jarang dihadiri, dan semangat kolektivitas perlahan tergantikan oleh ambisi pribadi. Ironisnya, mereka yang memiliki akses luas terhadap pengetahuan justru memilih diam di tengah ketidakadilan dan ketimpangan.
Data dari LLDIKTI Wilayah III (2024) mencatat bahwa hanya sekitar 11% mahasiswa aktif terlibat dalam organisasi kampus, baik intra maupun ekstra. Sementara itu, survei nasional dari Tirto Institute pada awal 2025 menunjukkan bahwa 62% mahasiswa merasa kurang percaya diri untuk menyuarakan pendapat, bahkan di lingkungan kampus sendiri.
Ini adalah panggilan bagi kita semua. Kampus bukan sekadar tempat mengejar gelar, tetapi ruang untuk belajar menjadi pemimpin, pemikir, aktivis, dan pelayan masyarakat. Sudah saatnya mahasiswa kembali tampil sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa. Manfaatkan ruang-ruang kampus untuk berdiskusi, berorganisasi, dan memberi kontribusi nyata.
Menjadi mahasiswa bukan hanya soal kelulusan, tetapi tentang bagaimana kita hadir untuk orang lain. Sebab kelulusan hanyalah sebuah titik, sementara suara dan tindakan kita hari ini bisa menjadi bagian dari sejarah di masa depan.
Tr: Dina Yolanda
Sumber Foto: Vectezeey.com






















