Teropongdaily, Medan-Masih banyak masyarakat yang memandang mahasiswa sebagai sosok pengangguran yang bergaya. Mereka sering kali dianggap hanya sibuk nongkrong, berselancar di media sosial, atau tampil perlente tanpa pekerjaan tetap. Bahkan, ada ungkapan populer yang menyebut, “Mahasiswa itu hanya pengangguran yang bergaya.” Namun, anggapan semacam ini perlu ditinjau ulang secara lebih objektif dan bijak.
Mahasiswa sejatinya berada dalam masa transisi antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Mereka bukan tidak bekerja karena malas, tetapi karena sedang membangun pondasi keterampilan dan pengetahuan. Kehidupan kampus bukan hanya soal teori, tetapi juga ruang untuk mengasah soft skill seperti kemampuan komunikasi, kerja sama, berpikir kritis, hingga adaptasi sosial semua itu adalah bekal penting yang tak kasat mata, namun sangat dibutuhkan di dunia profesional.
Ironisnya, dunia kerja kerap kali tidak bersahabat terhadap lulusan baru. Data Kompas (2025) mencatat, sekitar 13,89% pengangguran di Indonesia berasal dari kalangan sarjana. Bahkan, kelompok usia 15–24 tahun memiliki tingkat pengangguran tertinggi, yakni 16,16%. Ini bukan persoalan malasnya mahasiswa, melainkan dampak dari ketidaksesuaian antara sistem pendidikan tinggi dan kebutuhan nyata dunia industri.
Penelitian dari ResearchGate (2024) menunjukkan bahwa 40% pengusaha menilai lulusan baru belum memenuhi standar dunia kerja. Akibatnya, banyak sarjana yang terpaksa bekerja di luar bidang keahliannya atau menghadapi kondisi kerja yang tidak ideal. Dalam situasi ini, kehadiran teknologi dan kecerdasan buatan justru mempersempit ruang gerak bagi lulusan baru yang belum memiliki pengalaman kerja memadai.
Lalu, apakah salah jika mahasiswa tampil “bergaya”? Memiliki laptop mahal, nongkrong di coffee shop, aktif di media sosial, hingga sibuk berorganisasi bukanlah sekadar pamer gaya hidup. Banyak dari mereka justru menjadikan itu sebagai bagian dari aktivitas produktif: menjadi freelancer, pembuat konten, relawan, bahkan pebisnis muda. Ini merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan zaman, bukan simbol kemalasan.
Menilai mahasiswa hanya dari permukaan penampilannya adalah bentuk penyederhanaan yang tidak adil. Mereka sedang berjuang dalam sistem pendidikan yang belum ideal, di tengah pasar kerja yang sempit, dan ekspektasi sosial yang tinggi. Maka, daripada menghakimi, lebih bijak jika kita mendukung dan memberi ruang bagi proses mereka. Karena sejatinya, mahasiswa bukan pengangguran mereka adalah generasi yang sedang mempersiapkan perubahan.
Tr: Dina Yolanda





















