Teropongdaily, Medan-Kuliah adalah sebuah privilege yang sering kali diabaikan oleh sebagian orang. Dalam kehidupan bermasyarakat, akses terhadap pendidikan tinggi tidaklah merata. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, hanya sekitar 30% penduduk usia 19-24 tahun di Indonesia yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Banyak individu yang terpaksa menghentikan impian mereka karena keterbatasan finansial, lokasi, atau minimnya informasi. Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, kuliah seharusnya dipandang sebagai sebuah anugerah.
Di dunia yang semakin kompetitif, gelar pendidikan tinggi menjadi salah satu syarat penting untuk memasuki dunia kerja. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi memiliki tingkat pengangguran yang lebih rendah, yakni sekitar 5%, dibandingkan dengan mereka yang hanya memiliki pendidikan SMA ke bawah yang mencapai 10%. Namun, kuliah bukan hanya sekadar tiket masuk ke dunia kerja. Lebih dari itu, perkuliahan membentuk cara berpikir dan perspektif seseorang. Sayangnya, aspek penting ini sering terabaikan ketika kuliah hanya dipandang sebagai rutinitas semata.
Ironisnya, masih banyak mahasiswa yang menjalani perkuliahan dengan sikap kurang serius dan tidak disiplin. Pendekatan seperti ini dapat menghambat proses belajar dan mengurangi makna dari pengalaman perkuliahan itu sendiri. Oleh karena itu, penting untuk menyadarkan mahasiswa bahwa mereka memiliki privilege yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kesadaran ini dapat menumbuhkan rasa syukur dan motivasi dalam menjalani proses belajar.
Sebagai penutup, kuliah seharusnya dipahami sebagai sebuah perjalanan yang bermakna, bukan sekadar rutinitas. Setiap individu yang mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi perlu menyadari bahwa mereka termasuk dalam kelompok yang beruntung. Dengan memanfaatkan kesempatan ini secara optimal, mereka tidak hanya memperkaya diri sendiri, tetapi juga mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat. Dengan begitu, kuliah bukan hanya menjadi batu loncatan menuju karier, tetapi juga menjadi sarana untuk menemukan jati diri dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Tr: Dedek Febrianto






















