Teropongdaily, Medan-Pada dasarnya inner child adalah bagaimana kita menjadi “orang tua” bagi diri kita sendiri. Inner child merupakan hasil dari pengalaman atau kejadian di masa lalu yang belum terselesaikan dengan baik. Kita adalah tuan bagi tubuh kita dan kita mempunyai hak penuh dalam pengendalian diri, penyaringan dan penyerapan energi dari luar diri.
Pengalaman baik dan menyenangkan di masa lampau, akan sangat berdampak positif pada kehidupan seseorang pada saat dewasa dan pengalaman negatif tentu akan memberikan luka batin, yang jika tidak disembuhkan akan berdampak buruk bagi perkembangan diri.
Inner child terluka karna ada faktor-faktor yang salah seperti pola asuh, dampak dari perceraian orang tua sehingga melukai anak, kekerasan seksual, bullying yang terjadi di masa lalu, serta masih banyak lagi faktor penyebabnya.
Hal ini perlu untuk ditangani sebab kita tidak boleh terus terusan menyalahkan keadaan yang sudah terjadi, menyakiti diri sendiri dan tidak percaya pada diri sendiri.
Yang pertama kita perlu lakukan adalah berdamai dengan keadaan yakni, bahwa setiap kejadian yang kita lalui adalah merupakan pelajaran pendewasaan, tidak ada hidup yang betul betul sempurna di bumi ini, peluk diri sendiri, dan sering sering berikan afirmasi positive bagi diri, seperti “tenang, ini semua akan berlalu, aku pantas di cintai, saya sempurna apa adanya, dan kata kata positive lainnnya.
Berbagai macam emosi dan reaksi kita terhadap suatu hal, seperti, marah, sedih, senang, bahagia, kecewa, takut, cemas, malu dan lain-lain, dipengaruhi oleh inner child kita yang merasakan kembali emosi yang dahulu kita rasakan melalui stimulus yang datang.
Contohnya seorang anak yang banyak berceloteh dan tidak memberikan orang lain kesempatan berbicara, bisa jadi dahulunya dia adalah seseorang yang pada masa kecilnya kurang di dengarkan di rumahnya sendiri, anak-anak yang pemalu tidak memiliki keberanian untuk menunjukkan diri dan bakatnya di depan banyak orang, bisa jadi dia anak yang sering dibanding-bandingkan oleh ibu dan keluarganya di rumah, keadaan dan didikannya di rumah sangat berdampak pada keadaan seseorang diluar rumah, apa lagi soal pengendalian emosional, maka dari itu rumah sangat berperan penting ibarat pilar dan pondasi utama.
Masih banyak orang yang belum tahu dan sadar bahwa sosok kecil dalam diri mereka sedang terluka. Padahal, sosok kecil dari diri kita juga butuh didengar, dimengerti, dirangkul dan diperhatikan. Inner child penting dipahami agar kita tidak mudah menjadi orang yang rapuh dan sensitif. Maka dari itu, belajarlah mengenali, menerima, memaafkan, mengolah dan mencintai inner child supaya hidup menjadi lebih damai.
Tr : Maghfirani
Editor : Rizali Rusidan
Sumber Foto : kompasiana






















