Tim Program Kreativitas Mahasiswa-Video Gagasan Kritis (PKM-VGK) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) memperkenalkan Nexa Traffic, Al-Driven Predictive Traffic Ecosystem yang dirancang memprediksi kemacetan sebelum terjadi, sebagai solusi inovatif bagi Kota Medan, Sabtu (22/08/2026).
Ketua tim PKM-VGK sekaligus mahasiswi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMSU, Rajani, mengatakan skema tersebut dipilih agar gagasan yang diusung dapat divisualisasikan secara sederhana dan mudah dipahami masyarakat maupun pemangku kebijakan.
“Kami memilih Kota Medan karena kemacetan merupakan permasalahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan berdampak langsung terhadap mobilitas, waktu, produktivitas, serta aktivitas ekonomi. Medan juga merupakan salah satu kota besar di Indonesia dengan aktivitas kendaraan yang tinggi,” ujar Rajani.
Rajani menjelaskan sistem tersebut dikembangkan dengan kemampuan membaca kondisi lalu lintas untuk memberikan gambaran mengenai situasi yang berpotensi terjadi.
“Keunggulan NexaTraffic terletak pada pendekatan prediktif, bukan sekadar responsif. Sistem ini tak hanya memberi tahu bahwa jalan sedang macet, tetapi memprediksi kemungkinan terjadinya kemacetan serta membantu menentukan langkah penanganan sebelum situasi semakin parah,” ungkap Rajani.
Pengembangan NexaTraffic memanfaatkan sejumlah teknologi yang telah tersedia, sehingga penerapannya dapat dilakukan secara bertahap. Uji coba akan dimulai di titik rawan kemacetan sebelum dikembangkan ke kawasan lainnya.
“Kami tidak memosisikan NexaTraffic sebagai teknologi yang harus dibangun dari nol. Konsepnya adalah mengintegrasikan data dan teknologi yang sudah ada ke dalam suatu ekosistem pengelolaan lalu lintas yang lebih prediktif, jelasnya,” jelas Ranjani.
Selain aspek teknologi, tim turut memperhatikan perlindungan data dalam pengembangan NexaTraffic. Hasil kajian selanjutnya akan disampaikan kepada Pemerintah Kota Medan dan Dinas Perhubungan untuk diusulkan dalam tahap uji coba terbatas.
“Kami tidak ingin NexaTraffic berhenti sebagai sebuah gagasan, tetapi menjadi langkah awal menuju sistem transportasi Kota Medan yang lebih prediktif, adaptif, dan berbasis data,” tutup Rajani.
Tr : Athira & Aura





















