Ambisi untuk mengejar algoritma membuat banyak konten kreator mengabaikan empati dan menjadikan penyandang disabilitas sebagai objek eksploitasi. Gagasan tersebut mengemuka dalam live youtube dialog aspirasi sumut: hentikan konten diskriminasi disabilitas.
Corry Novrica AP Sinaga, S.Sos., M.A., selaku dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara sekaligus Pengamat Media Sosial menilai bahwa tindakan eksploitatif tersebut tidak hanya melanggar etika penyiaran, tetapi juga berdampak buruk pada psikologis kelompok rentan serta memperlebar jarak inklusivitas di ruang publik.
“Nah, konten seperti ini bukan hanya menyakiti hati individu ya, bahkan dia juga bisa menyakitkan hati kelompok tertentu dan memperkuat stigma bahwa disabilitas itu adalah kelemahan” ujarnya dalam dialog aspirasi sumut RRINet Medan, Senin (08/06/2026).
Ia mengatakan, setidaknya ada tiga bentuk pelanggaran etika yang sering dilakukan kreator konten saat ini seperti menjadikan parodi, objek kasihan dan pengabaian terhadap aksesibilitas digital.
“Pertama, disabilitas itu dijadikan sebagai bahan ejekan atau humor, misalnya cara berbicaranya, berjalannya, atau kondisi fisiknya. Nah, yang kedua ada juga konten yang menggambarkan penyandang disabilitas itu sebagai objek kasihan dan berikutnya ada juga konten yang mengabaikan aksesibilitas,” katanya.
Ia menilai akar dari kekacauan etika di ruang digital ini bersumber dari minimnya bekal pengetahuan para pembuat konten baru yang mendadak populer tanpa memahami regulasi penyiaran.
“Kelemahan public figure saat ini yang kita istilahkan sebagai konten kreator atau influencer, mereka tidak punya pengalaman atau tidak punya pengetahuan tentang etika, apakah ini boleh disiarkan ini tidak boleh disiarkan mereka tidak paham,” tuturnya.
Ia menyebut, solusi untuk menyudahi bentuk konten diskriminasi ini yaitu agar industri periklanan digital ikut memutus rantai ekosistem konten buruk ini dengan menerapkan filtrasi yang ketat.
“Seharusnya pemilik brand, pemilik merek atau produk harus punya filter terhadap konten kreator yang akan dia endorse, contohnya dulu brand besar langsung memutuskan hubungan kerja sama jika publik figurnya kena kasus” pungkasnya.
Tr: Nawan




















