Kita tidak bertengkar,
tidak juga saling pergi dengan pintu yang dibanting,
dan tak ada kata “selesai”
yang sempat kita ucapkan bersama.
Tiba-tiba saja kau berpindah alamat,
namun bukan ke kota lain,
melainkan ke sunyi
yang tak bisa kudatangi.
Aku masih menyimpan namamu
di antara pesan yang tak terbalas,
di doa yang setiap malam
kuucapkan dengan suara pelan,
takut Tuhan pun ikut menangis.
Katanya waktu menyembuhkan,
tapi waktu hanya mengajarkanku
cara hidup dengan rindu
yang tak punya tujuan pulang.
Kini kita berbeda,
aku bernapas dengan kehilangan,
dan kau tenang dalam keabadian.
Ternyata perpisahan paling menyakitkan
adalah yang tak memberiku kesempatan
untuk benar-benar berpamitan.
Tr: Adelia Isnaini
Sumber Foto: Pinterest






















