Teropongdaily, Medan-Pada awal 2025, Indonesia dilanda tekanan ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi tahunan pertama dalam dua dekade sebesar 0,09% (YoY) pada Februari. Penurunan harga pangan bukanlah kabar baik sepenuhnya, justru menjadi sinyal lemahnya permintaan akibat daya beli yang merosot, lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK), dan sulitnya mencari pekerjaan.
Survei Katadata Insight Center menunjukkan bahwa kelas menengah mulai mengandalkan tabungan untuk bertahan hidup. Fenomena ini dikenal sebagai “maktab”, alias makan tabungan. Dalam kondisi seperti ini, konsumsi barang tersier semestinya menurun drastis. Namun, kenyataannya tidak demikian.
Industri kosmetik justru tumbuh. Penjualan lipstik, cushion, hingga produk skincare tetap tinggi. Live e-commerce ramai, peluncuran produk baru diserbu. Fenomena ini disebut lipstick effect, sebuah konsep ekonomi-sosial yang dipopulerkan oleh Leonard Lauder (CEO Estée Lauder) saat resesi tahun 2001, dan disinggung pula oleh Juliet Schor dalam The Overspent American (1998).
Lipstick effect menjelaskan pola konsumsi saat krisis, masyarakat mencari pelarian emosional melalui barang kecil yang terjangkau namun memuaskan, seperti kosmetik. Produk-produk ini menawarkan rasa kendali di tengah ketidakpastian besar.
Di Indonesia, lipstik dan skincare menjadi bentuk affordable luxury. Ketika negara sibuk berunding soal tarif dan ekonomi tergadaikan lewat negosiasi yang jauh dari kendali publik, sebagian masyarakat terutama perempuan bertahan lewat pilihan-pilihan kecil yang masih bisa mereka buat.
Lipstik bukan cuma warna di bibir. Ia adalah simbol tetap berdiri, tetap rapi, tetap hidup, meski diterpa badai. Ekonomi, pada akhirnya, tak melulu soal kurva. Ia juga hidup di kaca rias kecil dan wajah yang berusaha tetap baik-baik saja.
Tr: Intan Nur’aini
Sumber Foto: Beauty Independent






















