Dalam kelam yang mengikat langkah,
tersembunyi harap yang diam-diam menunggu.
Badai telah lama menguji,
Namun kini sinar itu kembali menembus kabut.
Harapan itu, bagai embun pagi,
Yang menanti di bibir daun.
Tak tampak dalam hening,
Namun diam-diam meresap ke dalam tanah yang telah lama menahan dahaga.
Rindu pada cahaya yang terlupakan, melangkah perlahan, menjamah hati yang lelah.
Setelah hilang dalam gelap,
Penyemangat itu datang tanpa suara,
Membawa hangat di tengah sepi.
Cahaya itu,
bagaikan bulan yang terlupa di balik awan gelap,
Kembali menembus ruang yang rapuh,
Menerangi jejak-jejak yang pernah hilang di pelukan kelam.
Kembalinya dia, bukanlah sinar yang terang,
Tetapi nyala api yang menari dalam sepi.
Menghidupkan kembali harapan yang telah jatuh,
Merangkai mimpi dari serpihan yang terpecah,
Mengajari bahwa tak ada malam yang abadi, karena selalu ada pagi yang menunggu di batas horizon yang tak pernah hilang.
Tr: Novita Sari
Editor: Salsabila Balqis
Sumber Foto: BBC





















