Teropongdaily, Medan-Banyak kasus yang pada akhir-akhir ini melibatkan bentuk kegiatan radikal maupun menunjukkan sikap kurangnya toleransi terhadap individu ataupun kelompok tertentu. Dari mana hal ini bisa muncul? Itu merupakan pertanyaan panjang yang akan selalu dipertanyakan orang dari dulu hingga sekarang, bahkan mungkin hingga generasi yang ke depannya.
Namun umumnya, hal-hal tersebut timbul sebagai bentuk protes dari ketidakadilan pemerintah terhadap suatu kaum tertentu, juga sebagai bentuk penolakan hadirnya suatu paham, ataupun merupakan ujaran kebencian secara tidak langsung yang seringnya dikemas dalam kalimat ‘kebebasan berpendapat’. Hal tadi tentunya menjadi perdebatan panjang yang tidak akan ada habisnya, dimana akan ada saja pemikiran-pemikiran berbeda yang menimbulkan pro dan kontra lebih jauh dari permasalahan semula.
Salah satu contoh mudah yang dapat kita bahas ialah seperti kasus pembakaran kitab suci atau pembakaran sebuah rumah ibadah, dimana pelakunya sering kali justru orang-orang dengan pemahaman berbeda, yang dengan sengaja memancing kegaduhan antar sesama umat beragama. Dengan alasan bahwa dia merasa kepercayaannya adalah yang benar diantara kepercayaan lainnya.
Untuk contoh lainnya yang dapat kita ambil ialah Organisasi Papua Merdeka (OPM), untuk hal ini sendiri, bagaimana bisa OPM terbentuk padahal negara kita sendiri selama ini terlihat damai dan baik-baik saja?, Semua hal yang ada didasari atas segala kejanggalan yang tidak tersuarakan, dan salah satunya ialah OPM itu sendiri. Dimana gerakan ini merupakan bentuk penyuaraan dari ketidakadilan yang mereka rasakan dari pemerintah kita sendiri.
Lalu pertanyaan aslinya ialah, ditengah maraknya kasus-kasus yang melibatkan sikap radikalisme dan intoleransi antar sesama, bagaimanakah kita harus bersikap di era gempuran digital saat ini? Sebagaimana yang kita ketahui bahwa rekam jejak digital akan selalu bertahan lebih panjang dibanding ingatan manusia, dan kita sebagai remaja dan generasi penerus bangsa juga ialah Agent of Change yang diharapkan membawa perubahan lebih baik ke depannya.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mulai bisa bijak dalam memilah kata ataupun bersikap saat akan mengekspresikan diri, terutama di media massa. Dengan untuk lebih bijak lagi dalam membedakan antara kabar faktual dengan hoax belaka, serta cerdas dalam memposisikan diri yang tidak akan menimbulkan prasangka untuk ke depannya.
Banyak juga kegiatan-kegiatan dengan jalur yang lebih positif yang dapat membantu kita mengkritisi baik kejanggalan dalam sistem pemerintahan, maupun penyimpangan norma-norma yang terjadi sejauh ini. Kegiatan yang mau dicari dimana? Berbicara soal inisiatif diri, itulah pentingnya pola pikir kritis bagi para generasi penerus. Karena apapun bentuk kegiatannya pasti tidak akan bisa terwujud tanpa adanya inisiatif untuk kita membangun dan mengembangkannya.
Tr : Choirun Annisa
Editor : Khofifah Aderti Mutiara





















