Topeng di Meja Makan
Kau tersenyum paling lebar di depanku,
menggenggam tanganku seolah tak pernah ada jarak.
Namun di balik pintu yang kau kira tertutup,
namaku kau kupas habis, helai demi helai.
Dulu kupikir hangatmu adalah rumah,
ternyata hanya lampu panggung,
menyala saat ada penonton,
padam ketika aku berbalik pergi.
Manis di bibir, pisau di bayang,
kata “sahabat” kau pakai seperti jaket pinjaman,
dikenakan saat dingin,
dilepas saat aku tak lagi berguna.
Tapi aku tak akan membalas dengan racun yang sama.
Biar waktu yang menyaring siapa tulus, siapa sekadar singgah,
sebab kebenaran tak perlu berteriak,
ia hanya perlu bersabar sampai topeng itu jatuh sendiri.
Kini aku belajar mencintai sepi yang jujur,
daripada ramai yang berpura-pura.
tr. Apis.




















