Teropongdaily, Medan-Kita semua hidup, tapi tidak semua dari kita dapat benar-benar memiliki kesempatan untuk merasakan apa itu hidup.
Kira-kira seperti itulah isi pikiran ku belakangan ini, selama membaca buku Convenience Store Woman karangan Sayaka Murata. Aku mendapati diriku sendiri larut dalam karakter Furukura Keiko yang diciptakan oleh Murata. Tentang seorang wanita diatas 30 tahun menghabiskan waktunya bekerja sebagai seorang paruh waktu di minimarket tanpa ia benar-benar tahu apa yang sebenarnya dia lakukan dalam hidupnya dan untuk ke depannya.
Bahkan ada juga kutipan isi pikiran Keiko dalam buku tersebut saat ia membahas bagaimana kepribadiannya saat ini merupakan hasil dari kepribadian orang lain yang ditiru olehnya dan hal itu, hingga kini terus menarik perhatianku. Dia berkata, “Cara bicaraku pun mungkin juga memengaruhi orang lain. Menurutku, saling memengaruhilah yang menjaga kita tetap menjadi manusia.” (Murata, halaman 31).
Membaca kalimat tersebut membuat ku bertanya, apakah di dunia nyata, hal seperti itu memang benar adanya? Jika seandainya suatu hari seseorang datang bertanya padaku bagaimana hasil kepribadian ku terbentuk, aku tidak yakin bagaimana aku harus menjawab dengan tepat pertanyaan tersebut.
Menurutku, kehidupan perlu di nikmati secara perlahan, tapi hidup dengan mengikuti arus hingga kita memerlukan acuan dari orang lain untuk dapat benar-benar berbaur dalam kehidupan sosial. Seperti yang tokoh Keiko lakukan dalam ceritanya bukanlah hal yang benar untuk diterapkan.
Memiliki arah, mengetahui bagaimana kita bersikap, berpakaian bagaimanapun kita inginkan, terlepas dari usia ataupun lingkungan adalah hal mendasar yang rasanya setiap orang perlu sadari. Untuk ku, hidup berjalan sangat lambat dan aku menikmatinya dengan perlahan. Menjadi hidup adalah ketika aku memiliki hal-hal yang aku tahu sangat ingin ku lakukan dengan tempat dimana aku bisa berada.
Tidak sekedar bagaimana keberadaan orang lain mempengaruhi keberadaan ku, maupun sebaliknya. Bila kita mengetahui apa yang sangat ingin kita tuju, menikmati hidup secara perlahan, adalah pilihan tepat untuk kita bisa memaknai dan menghargai tiap masa yang dilalui.
Bagiku, waktu tidaklah berjalan dengan cepat, melainkan kita, manusia lah yang tenggelam ke dalam arus yang dibawa oleh waktu hingga tidak sempat menikmati tiap detiknya.
Tr : Asa
Editor : Khofifah Aderti Mutiara






















