Beberapa langkah melesat sengit,
menjemput cahaya dengan tangan terbuka.
Nama-nama mereka terpatri di langit,
dipuji, disanjung, disorot waktu.
Di sudut lain, ada langkah yang pelan,
menyusuri jalan sunyi tanpa sorak.
Ia tak terburu,
meski angin berulang kali menggoda untuk berlari.
Banyak yang mengira,
yang datang belakangan telah tertinggal.
Padahal, bumi tak menuntut siapa pun
untuk tumbuh serentak.
Setiap benih punya musim,
setiap batu menaruh sabarnya sendiri.
Pelan tak bermakna rapuh,
yang diam tak berarti hilang arah.
Tak semua cahaya harus datang pagi,
sebagian memilih bersinar saat senja.
Keindahan tetap menjalar,
sebagaimana waktu tak pernah salah memilih siapa.
Lambat tak akan tertera kalah,
Ia hanya memilih setia
pada irama yang paling jujur dalam dada.
Tr: Anggun Nihma
Sumber Foto: Pinterest





















