<strong>TeropongOnline.com, Medan - </strong>Untuk kalian yang sangat menyukai buku atau kolektor buku-buku, nah kali ini pong-pong akan memberikan rekomendasi buku bacaan fiksi untuk akhir tahun 2018. Dalam menyusun daftar rekomendasi buku ini, pong-pong tidak memberlakukan kriteria tertentu. Berikut daftar buku-buku yang pong-pong rekomendasi kan. <ol> <li><strong><em>Asmaraloka</em> karya Danarto</strong> Danarto adalah sastrawan Indonesia yang sudah sepuh. Karya-karyanya patut untuk dibaca oleh generasi sekarang. Asmaraloka adalah novel baru diterbitkan tahun 2016. Pong-pong belum memiliki gambaran tentang novel ini. Oleh karenanya, pong-pong kutipkan saja blurb novel ini. Perang fatamorgana dalam novel <em>Asmaraloka </em>ini adalah sebuah rekayasa perang antarsuku-agama-ras-antargolongan. Sehingga perang ini menjadi komoditas, persis pertandingan sepak bola. Setiap orang bisa ikut berperang atau sekadar menonton. Orang lalu piknik perang, menonton perang di garis depan. Tak ketinggalan siaran pandangan mata oleh para wartawan perang sehingga yang tewas tidak hanya yang di medan perang, juga penonton televisi di rumah karena serangan jantung. Dari gaya perang macam ini, yang sudah berlangsung puluhan tahun, jangan-jangan sudah seratus tahun, lahir peradaban baru.</li> </ol> <ol start="2"> <li><strong><em>Setangkai Melati di Sayap Jibril</em> karya Danarto</strong> Buku ini memuat cerpen-cerpen karya Danarto. Ada unsur ketakterdugaan dalam cerpen-cerpennya. Saya kutipkan blurb dari buku ini. Cerpen-cerpen Danarto, cenderung menghadirkan hal yang non-real, yang tak nyata, ke dalam bingkai kenyataan. Yang real dan non-real mewujud bukan sebagai sesuatu yang saling bertentang, bukan “dua dunia” yang tidak saling bersentuhan, tetapi justru sebagai yang saling berkelindan, jalin-menjalin, pengaruh-mempengaruhi. Yang real dan non-real, dalam cerpen-cerpen Danarto, melebur menerobos ruang dan waktu, sehingga sebagai dunia alternatif cerpen-cerpen Danarto membawa kita, pembaca, ke dunia sonya ruri, ke wilayah fantastis, ke dunia transenden, yang tidak real tapi juga tidak sepenuhnya tak terkenali.</li> </ol> <ol start="3"> <li><strong><em>Nagabumi II</em> karya Seno Gumira Ajidarma</strong> Seno Gumira Ajidarma menjadi semacam jaminan kualitas atas karya-karyanya. Novel Nagabumi ada dua jilid. Pong-pong sudah merampungkan jilid pertama yang tebalnya 815 halaman. <em>Nagabumi </em>jilid II yang bertajuk<em> Buddha, Pedang, dan Penyamun Terbang</em> ini ini tebalnya 980 halaman. Wow... Novel ini berlatar peradaban Jawa pada masa lalu ketika Kerajaan Sriwijaya masih berkuasa. Penulisnya benar-benar habis-habisan menggambarkan kehidupan masa lalu di Jawa. Novel ini –menurut saya—melebihi disertasi. Untuk jilid II, ada catatan akhir sebanyak 46 halaman dengan huruf-huruf kecil. Daftar pustakanya sebanyak 7 lembar. Membaca novel ini seperti membaca sebuah penelitian, seperti membaca buku sejarah.</li> <li><strong><em>Wisanggeni: Sang Buronan</em> karya Seno Gumira Ajidarma </strong> Wisanggeni adalah tokoh wayang yang tidak terlalu terkenal. Ia adalah tokoh yang tersingkirkan. Tentu sangat menarik ketika Seno Gumira Ajidarma menghidupkan tokoh ini. Novel ini kemungkinan mengandung unsur silat, filsafat, dan cerita yang menghibur. Novel tipis (108 halaman) ini menjadi salah satu buku yang saya cari di tahun ini karena saya belum memilikinya.</li> <li><strong><em>Lampuki </em>karya Arafat Nur</strong> Novel <em>Lampuki </em>menjadi Pemenang Unggulan Sayembara Novel DKJ 2010 dan Pemenang Hadiah Sastra Khatulistiwa 2011</li> <li><strong><em>Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi</em> Karya Yusi Avianto Pareanom </strong> <em>Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi</em> mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 kategori prosa. Novel yang mendapat banyak pujian ini merupakan dongeng para raja dan pangeran. Kata orang-orang yang sudah membacanya, novel ini sungguh-sungguh sangat memikat. Bahasanya ekspresif dan alurnya menarik.</li> </ol>