Teropongdaily, Medan-Fenomena quarter life crisis kini menjadi realitas bagi anak muda usia 20-30 tahun. Kebingungan arah hidup, ketidakstabilan emosi, dan tekanan sosial adalah bagian dari tantangan yang tak bisa diabaikan. IDN Times Millennial Report 2022 menunjukkan lebih dari 70% anak muda Indonesia pernah mengalami krisis identitas ini. Kondisi ini mencerminkan ekspektasi hidup yang terus meningkat di usia muda.
Media sosial menjadi faktor utama yang memperparah krisis ini. Paparan “kesuksesan instan” di berbagai platform membuat banyak anak muda merasa tertinggal. Padahal, setiap orang memiliki jalur dan waktu perjalanan hidup yang berbeda. Penelitian membuktikan penggunaan media sosial yang intens memicu kecemasan, rendah diri, dan stres akibat perbandingan sosial yang berkelanjutan.
Dunia kerja yang kompetitif dan tidak stabil menambah ketidakamanan. Banyak anak muda berganti pekerjaan dalam waktu singkat, menghadapi ketidakpastian karier, atau merasa tidak menemukan makna dalam pekerjaannya. Data BPS Indonesia menunjukkan pengangguran terbuka di usia 20-29 tahun mencapai angka yang tinggi, menambah beban mental dan kebingungan tentang masa depan.
Tekanan keluarga dan lingkungan juga menjadi pemicu signifikan. Ekspektasi untuk “berhasil” di usia tertentu, seperti menikah, memiliki rumah, atau mapan secara finansial sering tidak realistis dengan kondisi ekonomi saat ini. Survei menunjukkan sebagian besar anak muda merasa terbebani harapan keluarga yang sulit dipenuhi, menimbulkan konflik batin dan stres.
Meski penuh tantangan, quarter life crisis bukanlah akhir segalanya. Masa ini justru menjadi momen penting untuk mengenal diri lebih dalam. Banyak anak muda yang melalui krisis ini menemukan nilai hidup lebih bermakna, berani mengejar passion, dan belajar menerima proses kehidupan. Para psikolog menegaskan fase ini adalah bagian normal perkembangan menuju kedewasaan.
Dengan dukungan sosial yang tepat, quarter life crisis dapat menjadi titik balik untuk tumbuh secara emosional, sosial, dan profesional. Penting bagi keluarga, pendidik, dan masyarakat memberikan ruang serta dukungan agar generasi muda dapat melewati masa sulit ini dengan lebih baik.
Tr: Imtiyaz Alnatanisa
Sumber Foto: Freepik.com






















