Teropongdaily, Medan-Di tengah tantangan zaman modern yang semakin kompleks, pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter. Pendidikan karakter muncul sebagai kebutuhan mendesak dalam sistem pendidikan tinggi. Ia bukan sekadar pelengkap kurikulum, melainkan fondasi esensial untuk membentuk mahasiswa yang berintegritas.
Tak sedikit kasus pelanggaran integritas seperti plagiarisme, manipulasi data, hingga korupsi kecil-kecilan terjadi di lingkungan akademik. Fenomena ini menandakan rapuhnya fondasi karakter generasi muda dan menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi pemimpin masa depan yang dapat dipercaya.
Fakta mengkhawatirkan dari Integrity Perception Index (2023) menunjukkan bahwa 67% mahasiswa Indonesia mengaku pernah melakukan kecurangan akademik. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan krisis moral yang melanda dunia pendidikan kita. Bagaimana mungkin kita bisa membangun peradaban unggul jika generasi muda masih terjebak dalam praktik tidak terpuji seperti plagiarisme dan pemalsuan data?
Ki Hajar Dewantara pernah mengingatkan bahwa pendidikan yang hanya mengejar kecerdasan otak akan melahirkan intelektual tanpa jiwa. Amanat ini semakin relevan di era digital, di mana persaingan sering kali mengabaikan nilai-nilai etika. Penelitian Lickona (2012) membuktikan bahwa pendidikan karakter yang konsisten dapat meningkatkan kesadaran moral mahasiswa hingga 58%.
Banyak perguruan tinggi mulai menyadari urgensi ini. Universitas Gadjah Mada, misalnya, melalui program Character Building-nya, berhasil menurunkan pelanggaran akademik sebesar 31% dalam tiga tahun terakhir. Mereka tidak hanya mengajarkan teori di kelas, tetapi juga menciptakan ruang nyata bagi mahasiswa untuk menginternalisasi nilai-nilai integritas melalui kegiatan pengabdian masyarakat dan program kepemimpinan.
Sayangnya, jalan masih panjang. Kita masih menghadapi kenyataan bahwa hanya 15% dosen yang terlatih dalam pengajaran berbasis karakter. Tanggung jawab ini tidak dapat sepenuhnya dipikul oleh institusi pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi erat antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri. Keterlibatan dunia usaha sangat penting dalam merumuskan standar penilaian karakter yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Pendidikan karakter ibarat benih yang ditanam hari ini untuk dipanen di masa depan. Ia bukan sekadar soal memperbaiki nilai, tetapi membangun fondasi karakter yang akan menentukan kualitas bangsa kita dalam sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Mari kita bersama-sama menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya melahirkan lulusan cerdas, tetapi juga manusia berintegritas yang mampu memimpin dengan hati nurani.
Tr: Nabila Sinaga





















