• Latest
  • Trending
  • All
  • Kabar Kampus
  • Feature
  • Opini
  • Sosok
Mengenal Lebih Dekat Jamaah Tabligh Medan

Mengenal Lebih Dekat Jamaah Tabligh Medan

11 September 2022
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026

4 February 2026
Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang?

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

Survei: Pandangan Mahasiswa UMSU terhadap Peluang dan Tantangan Kerja di Era Digital

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

UMSU Mart Berhenti Beroperasi

4 February 2026
Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

Pada Hal-Hal yang Tak Pernah Pergi

4 February 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

FKIP UMSU Menyokong Pembelajaran Visual melalui Ruang Podcast

29 January 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

Kecemasan Mahasiswa di Tengah Isu Perang Dunia Ketiga

29 January 2026
UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

UKM-LPM Teropong UMSU Gelar Webinar Nasional Literasi Hukum Digital

29 January 2026
UKM LPM Teropong Pelajari Strategi Bisnis Media dalam Kunjungan ke Harian Analisa

UKM LPM Teropong Pelajari Strategi Bisnis Media dalam Kunjungan ke Harian Analisa

26 January 2026
Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Akademisi UMSU Kritik Resolusi PBB soal Timur Tengah

25 January 2026
Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

Masihkah Mahasiswa Menjadi Suara Rakyat?

25 January 2026
Pengamat Politik UMSU Soroti Putusan MK: Wartawan Tidak Bisa Langsung Dipidana

UMSU Kukuhkan Guru Besar Energi Terbarukan

24 January 2026
  • Tentang
  • Advertisement
  • Contact
Sunday, 8 February 2026
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
BERLANGGANAN
UKM-LPM Teropong UMSU
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
  • Artikel
  • Foto Jurnalistik
  • Kabar SUMUT
  • Kabar Kampus
  • Kabar Medan
  • Majalah
  • Newsletter
  • Sastra
  • Nasional
  • Internasional
  • Lainnya
    • Almamater
    • Ekonomi
    • Feature
    • Infografik
    • Lifestyle
    • Opini
    • Politik
    • Ragam
    • Sipongpong
    • Sobatpongpong
    • Sosok
    • Terkini
No Result
View All Result
UKM-LPM Teropong UMSU
No Result
View All Result
Home Feature

Mengenal Lebih Dekat Jamaah Tabligh Medan

by REDAKSI TEROPONG
11 September 2022
in Feature
Reading Time: 4 mins read
0
Mengenal Lebih Dekat Jamaah Tabligh Medan

Masjid Hidayatul Islamiyah merupakan markas besar Jama’ah Tabligh di Kota Medan 0yang beralamatkan di jalan Gajah, Kecamatan Medan Area. Foto : Iqbal

0
SHARES
390
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Teropongdaily, Medan-Jamaah Tabligh  -selanjutnya akan disebut sebagai Jamaah- adalah salah satu gerakan kelompok Islam yang fenomenal. Di dunia, diperkirakan anggotanya mencapai hingga 80 juta orang yang tinggal di sekitar 150 negara, kebanyakan di Asia Selatan. Ia disebut-sebut sebagai ‘gerakan Islam paling berpengaruh di abad ke-20.’   Di Indonesia, hanya membutuhkan waktu dua dekade dan diperkirakan anggotanya sudah mencapai puluhan ribu. Padahal oraganisasi ini tidak berakar di Indonesia, tapi didirikan di India oleh Syeikh Muhammad Ilyas bin Syeikh Muhammad Ismail pada 1926.

Sebagian kalangan mencurigai kelompok ini  karena menganggapnya sebagai jaringan Islam garis keras. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat kelompok ini hanyalah komunitas dakwah yang bersifat apolitis dan tidak berbahaya.

RelatedPosts

Budaya Hustle dikalangan Gen Z

Pemimpin Benar Pelindung

Siapa Roehana Koeddoes?

Saya memutuskan untuk mengenal lebih dekat kelompok ini dengan mendatangi Masjid Islamiyah merupakan Markas Besar Jamaah Tabligh di Medan. Masjid ini  berada di lingkungan pemukiman warga keturunan Tionghoa. Di sinilah  Jamaah  pertama kali melakukan dakwahnya di  Sumatera Utara sekitar tahun 1970 an.

Di depan masjid, setiap pagi harinya ada pasar yang dipenuhi dengan bermacam jualan. Dari luar bangunannya tampak sama seperti masjid-masjid pada umumnya. Dinding depan masjid yang dipenuhi warna hijau menambah keidentikan corak-corak  khas islam, seperti kaligrafi.  Masjid ini sudah seperti markas bagi anggota Jamaah dalam menjalani keseharian, mulai dari beribadah, musyawarah hingga bersilaturahmi.

“Kalau di masjid ini kurang lebih bisa sampai 500 jamaah. Tapi  tidak setiap waktu juga di masjid ini, kadang kita juga mendatangi masjid-masjid lain untuk menyebarkan kebaikan di daerah sekitarnya,” ujar Muhammad Razali, seorang anggota Jamaah yang bertugas menjadi imam di Masjid Hidayatul Islamiyah.

Beberapa kitab bacaan yang sering dikaji oleh Jamaah Tabligh. Foto : Iqbal

Selain Al-Qur’an dan hadis yang menjadi pedoman, Jamaah juga memiliki kitab-kitab bacaan untuk dipelajari dalam kesehariannya.  Lima kitab yang paling sering dibaca oleh Jamaah Tabligh. yaitu Fadhilah Amal berisi keutamaan ibadah seperti salat, puasa, mengaji dan berdakwah; Fadhilah Sedekah berisikan manfaat-manfaat sedekah dan berbagi;   Muntaqob Hadist yang berisikan dalil-dalil pilihan enam sifat utama sahabat Rasulullah, Fadhilah Hajj berisikan manfaat dan pahala haji, dan  Hayyatuh Sahabah yang menceritakan kisah-kisah para sahabat Rasulullah.

Jamaah punya agenda khusus dalam menuntut ilmu. Setiap Sabtu malam mereka menyelenggarakan Bayan, yaitu tausyiah tentang  enam sifat sahabat Rasulullah, yang dilanjutkan dengan bermusyawarah membahas berbagai urusan, misalnya rencana keberangkatan khuruj. Tausiyah kembali dilanjutkan di hari Minggu subuh.

Sedangkan sekali dalam sebulan, mereka mengadakan apa yang disebut sebagai Malam Sapujari, yang memiliki agenda padat dari pagi hingga malam hari. Selepas salat subuh dengan Bayan, kemudian dilanjutkan dengan salat isyraq atau yang lazim dikenal salat dhuha. Setelah itu,  sarapan bersama, dilanjutkan musyawarah sampai salat zuhur. Setelah itu acara dilakukan dengan taklim yakni belajar ilmu Al Quran dan hadis. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan halaqah tajwid yaitu belajar tata baca Al Quran, kemudian zikir di waktu petang dan tabligh atau ceramah di malam hari.

 

Pengalaman Berdakwah: Ditimpuk Batu Hingga Dikejar Anjing

Razali, yang merupakan Imam Masjid Hidayatul Islamiyah saat memberikan kisah dan pengalamannya menjadi seorang Jamaah Tabligh. Foto : Iqbal

Salah satu ciri khas Jamaah adalah adanya konsep khuruj atau perjalanan keluar untuk berdakwah. Dalam aplikasinya khuruj terdiri dari tiga tahap yaitu tiga hari dalam sebulan, 40 hari dalam setahun,  dan empat bulan sekali dalam hidup.  Pada praktiknya, bahkan ada yang sampai satu tahun lamanya.

Dalam konsepsi Jamaah, seseorang akan dianggap sebagai pengikut jika sudah turut serta dalam khuruj, yang merupakan kewajiban. Menurut tulisan H As’ad Said Ali yang ditayangkan di nu.or.id,  landasan hukum khuruj bagi jamaah tabligh berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an (Al-Imran : 104 dan Al-Imran :110). Khuruj juga didasarkan pada satu hadits Nabi yang berbunyi “Apabila umatku di akhir zaman mengorbankan 1/10 waktunya di jalan Allah, mereka akan diselamatkan.”

Perjalanan melakukan dakwah ke berbagai daerah ini tak mudah.  Perjalanan mereka selama berhari-hari bahkan berpuluh hari tersebut tidak dengan cara menaiki kendaran seperti bus dan pesawat, melainkan berjalan kaki.

“Kami jalan kaki sambil bawa kompor, makanya sering dibecandain kalau kami ini jamaah kompor. Tapi yang jelas ada istirahatnya di masjid-masjid sambil silaturahmi dan menebarkan kebaikan ke saudara-saudara, inshaAllah,” cerita Razali, yang sudah bergabung dengan Jamaah sejak kelas empat SD.

Tak hanya berat secara fisik, secara psikologis pun perjalanan khuruj kerap amat menantang. Menurut Razali, tak jarang anggota Jamaah mendapatkan kecurigaan dan  penolakan dari warga.   Ia bercerita pengalamannya ketika pergi sendirian selama 40 hari ke Sibolga.  Kerap terjadi ketika mengetuk pintu rumah warga, belum apa-apa ia sudah ditolak karena dianggap ingin minta sumbangan. Ia bahkan sampai mengalami tindak kekerasan.

“Kami pernah dilempari batu sama warga,” kisah Razali. “Kami menganggapnya itu hal biasa. Bahkan Rasulullah juga saat berdakwah lebih dari itu cobaannya. Tapi ya itu faktanya kami hingga dilempari batu.”

Razali juga pernah mengalami dikejar anjing saat berdakwah di daerah Sibolga. Dalam keadaan terdesak, ia melantunkan surah Al-Lahab sembari menunjukkan jari telunjuk ke anjing tersebut. Berbagai pengalaman yang dialami para anggota Jamaah ketika melakukan kewajiban dakwah ini beragam, namun secara umum memang masih ada kecurigaan yang diarahkan kepada mereka.

“Berdakwah dan menyebarkan kebaikan di daerah orang lain tentu punya tantangannya sendiri. Akan tetapi semua itu kembali kepada niat awal baik para Jamaah dan tentunya melanjutkan apa yang di perbuat oleh Rasulullah SAW dahulu,” ujar Razali.

JIka melakukan perjalanan dakwah untuk waktu yang panjang seperti itu, lalu bagaimana nasib keluarga mereka?

Saya pernah memiliki pengalaman saat makan di salah satu warung di daerah Sunggal, Kota Medan, dan bertemu dengan seorang ibu yang sedang menangis. Ketika saya ajak bicara, ternyata ibu tersebut menangis karena putranya tergabung dalam Jamaah. Ibu itu bercerita bahwa  putranya itu menelantarkan istri dan anak-anaknya saat ditinggal khuruj.

Menurut Razali, sebetulnya berkhuruj namun menelantarkan keluarga itu tak sesuai dengan ajaran yang mereka terima.

“Kami diajarkan untuk tetap menafkahi anak istri kami, misal kami pergi 40 hari, sebelum pergi kami selalu meninggalkan harta dan nafkah kami sesuai dengan kebutuhan anak istri kami selama 40 hari itu juga, Keluarga itu tetap jadi tanggungjawab kami. Jika ada Jamaah Tabligh yang tidak bertanggung jawab atas keluarganya, maka itu adalah perbuatan yang keliru dan tidak sesuai dengan apa yang kami pelajari selama ini,” ujar Razali.

Untuk anggota Jamaah yang melakukan khuruj singkat tiga hari, mereka juga kerap mengajak keluarga turut serta.

Cerita Razali ini dikonfirmasi Suhartini seorang istri anggota Jamaah, tapi suaminya sudah meninggal. Semasa hidupnya suaminya ini sering berdakwah keluar kota, misalnya ke Jambi dan Palembang selama berhari-hari.

“Beliau selalu memberikan nafkah, meninggalkan uang sebelum berangkat. Untuk anak-anak sekolah, kehidupan sehari-hari dan makan,” tutur Suhartini.  “Suami saya juga meluangkan waktu untuk mengabari, menanyakan anak-anaknya, udah salat atau belum, udah mengaji atau belum.”

Dr. Ahmad Anzai Albaroesy, Direktur Lembaga Dakwah MPP ICMI Muda dan ustad Masjid Al-Mu’awanah Medan, memandang gerakan Jamaah sebagai sesuatu yang positif. Jamaah menjadi anak panah umat islam, yang bisa menjangkau pelosok-pelosok negeri, hingga rela mengeluarkan harta, tenaga dan pikiran. Di sisi lain, ada aspek yang juga penting diperhatikan.

“Saya tidak menyalahkan, memang mereka meninggalkan nafkah kepada keluarga mereka sebelum bepergian, tapi keluarga dan anak tidak hanya butuh nafkah,  mereka butuh juga kasih sayang. Jika boleh saya beri saran, mungkin untuk bepergian yang jauh bisa diutamakan untuk yang lajang, atau mereka bisa membawa juga keluarga mereka untuk melakukan dakwah,” tutur Ustaz Anzai.  ***

 

Tulisan ini bagian dari program Workshop dan Story Grant Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) atas dukungan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

 

Tags: #featurejamaahtablighmedanlpmteropongmasjidhidayatulislamiyahpersmahasiswateropongdaily
Previous Post

Sejarah Subsidi BBM Sejak Era Presiden Soekarno Hingga Kinj

Next Post

Adakan Bakti Sosial, Pascasarjana UMSU Gandeng Lion Club’ Medan

Related Posts

Pengamat Sospol Soroti Pernyataan Menkes Soal Gaji dan Kesehatan

Budaya Hustle dikalangan Gen Z

by REDAKSI TEROPONG
25 May 2025
0

Halo Sobat Pong-pong! Tahukah kamu? Budaya hustle atau kerja tanpa henti semakin populer di kalangan Gen Z. Banyak yang merasa...

Pemimpin Benar Pelindung

Pemimpin Benar Pelindung

by REDAKSI TEROPONG
7 November 2024
0

Teropongdaily, Medan-“Siapa yang tidak tahu Istana Maimun?” Mendengar nama Istana Maimun bukan hal lumrah lagi bagi masyarakat Tanah Deli, atau...

Pengungsi Rohingya Telah Tiba di Tepi Pantai Camar, Deli Serdang

Siapa Roehana Koeddoes?

by REDAKSI TEROPONG
1 January 2024
0

Teropongdaily, Medan-"Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya, yang harus...

Manusia (Bukan) Atheis

Manusia (Bukan) Atheis

by REDAKSI TEROPONG
25 December 2023
0

Teropongdaily, Medan-Berbicara mengenai Tuhan, tampaknya tidak akan pernah ada habisnya. Tetapi, pembahasan seputar ketuhanan pula yang tak pernah bosan di...

Negeri Pamanku

Metafisika Ruh Absolut

by REDAKSI TEROPONG
19 December 2023
0

Teropongdaily, Medan-Filsafat Hegel sering disebut sebagai puncak idealisme Jerman. Filsafatnya banyak diinspirasikan oleh Imanuel Kant dengan filsafat ilmunya (filsafat dualisme),...

Raih Juara Kategori Poster, Mahasiswa UMSU Berhasil Membawa Medali Perak

Jurnal Untuk Jurnalis

by REDAKSI TEROPONG
8 December 2023
0

Teropongdaily, Medan-Semua orang bisa menulis, namun tidak semua orang bisa memaknai apa itu menulis. Tidak hanya sekedar ketetapan, namun juga...

Next Post
Adakan Bakti Sosial, Pascasarjana UMSU Gandeng Lion Club’ Medan

Adakan Bakti Sosial, Pascasarjana UMSU Gandeng Lion Club' Medan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Tips Jitu Menjadi Remaja yang Keren dan Berprestasi

Tips Jitu Menjadi Remaja yang Keren dan Berprestasi

4 years ago
Andi Yusri: Kualitas UKM LPM Teropong UMSU, Harus Diperkuat

Andi Yusri: Kualitas UKM LPM Teropong UMSU, Harus Diperkuat

4 years ago

Popular News

    Connect with us

    Berlangganan melalui Email

    Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Join 5 other subscribers

    Konten Terbaru

    • Mahasiswa FKIP UMSU Raih Gelar Duta Muda Inspirator Sumatera Utara 2026 3 February 2026
    • Mengapa Seni Dijadikan Mesin Cuci Uang? 2 February 2026
    • Survei: Pandangan Mahasiswa UMSU terhadap Peluang dan Tantangan Kerja di Era Digital 31 January 2026

    Tentang Kami

    Pers Mahasiswa TEROPONG merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). UKM-LPM TEROPONG UMSU berdiri pada 12 Juli 2001 dan sampai saat ini merupakan satu-satunya UKM yang mengelola bidang penerbitan dan pers di tingkat UMSU.

    • Tentang
    • Advertisement
    • Contact

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    No Result
    View All Result
    • Artikel
    • Foto Jurnalistik
    • Kabar SUMUT
    • Kabar Kampus
    • Kabar Medan
    • Majalah
    • Newsletter
    • Sastra
    • Nasional
    • Internasional
    • Lainnya
      • Almamater
      • Ekonomi
      • Feature
      • Infografik
      • Lifestyle
      • Opini
      • Politik
      • Ragam
      • Sipongpong
      • Sobatpongpong
      • Sosok
      • Terkini

    © 2022 UKM-LPM Teropong UMSU | Designed and Developed by Agatha Projects.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password? Sign Up

    Create New Account!

    Fill the forms below to register

    All fields are required. Log In

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In