Di sebuah tanah yang harum oleh riwayat,
Buminya retak seperti kaca yang menahan kenangan,
Dan angin membawa bisik-bisik duka,
Yang tak sempat selesai didoakan.
Langit turun dengan murka yang lembut,
Mengguyur lembah bak tirai air yang tak kunjung putus.
Sungai yang biasanya pendiam,
Malam itu berubah menjadi serigala yang lepas dari gelap,
Menerjang apa saja yang berdiri dengan pasrah.
Di antara akar yang menggigil,
Rumah-rumah menjelma perahu patah,
Yang tak lagi sanggup mengingat arah pulang.
Lampu-lampu kecil yang dahulu hangat,
Tenggelam dalam senyap yang menua.
Namun dari reruntuhan,
Selalu ada tangan-tangan kecil yang memunguti sisa harapan seperti serpih cahaya.
Ada dada-dada kuat yang tetap berdiri,
Menahan gemetar bumi dan diri sendiri.
Tanah itu memang menangis,
Tetapi ia selalu menyimpan keberanian,
Seperti pohon tua yang tetap merindang,
Meski akarnya berkali-kali diseret badai.
Di sanalah doa-doa tumbuh,
Perlahan, namun tak pernah berhenti.
Sebab duka boleh datang bertubi-tubi,
Tetapi manusia selalu punya cara,
Untuk menyalakan kembali terang dari puing-puing.
Tr: Anggun Nihma






















