Ada letih yang tak tampak di mata,
ia menepi di sudut-sudut dada, menyerupai angin yang pura-pura ramah, menerbangkan dahan, lalu pergi entah ke mana.
Penat ini seperti hujan yang menua,
turun perlahan, menimpa tanah-tanah resah.
Tak ada suara, hanya gerimis di kepala,
mengikis pelan, namun terus basah.
Aku memikul langit tanpa pelangi,
menyusuri jalan sunyi yang berliku sendiri.
Lelahku menjelma bayang,
mengikut ke mana pun aku melangkah, diam-diam.
Kadang ingin kutitipkan letih ini
pada senja yang sabar menelan hari,
biar ia tahu
betapa aku telah berjalan jauh dalam diamku.
Namun lelah ini bukan musuh,
ia hanya tanda
bahwa aku masih bertahan,
meski dalam tubuh yang nyaris patah.
Tr: Novita






















